Gagasan mengizinkan penonton minum di stadion sepak bola kembali mencuat setelah Andy Burnham menyampaikannya dalam sebuah jawaban spontan. Menurut kolumnis Barney Ronay, usulan itu bukan sekadar tidak perlu, melainkan juga keliru karena berpotensi memindahkan uang dari pub ke kantong klub yang dimiliki dana investasi. Alih-alih menyelesaikan persoalan nyata, wacana ini justru membuka cara berpikir yang sudah usang tentang sepak bola dan budaya minum di Inggris.
Burnham, yang kini menjabat Wali Kota Manchester Raya, sedang berada dalam fase berkampanye yang cair menjelang kemungkinan perannya sebagai “perdana menteri pemadam kebakaran” di pertengahan musim politik. Komentarnya soal alkohol di tribun pun langsung dipotong, diperdebatkan, lalu dibuang oleh publik. Namun di balik reaksi itu ada hal yang lebih menarik untuk dicermati: apa yang sebenarnya dikatakan usulan tersebut tentang Burnham dan cara ia memandang budaya populer.
Usulan Minum di Stadion Sepak Bola yang Tak Akan Terjadi
Perlu ditegaskan sejak awal bahwa larangan minum alkohol di area yang masih terlihat dari lapangan sudah berlaku sejak akhir 1980-an. Aturan itu dibuat dengan alasan yang jelas dan mampu bertahan puluhan tahun, bukan karena kebetulan semata. Dalam pernyataannya, Burnham hanya mengulang pendapat pribadi yang sudah lama ia pegang, bukan mengumumkan kebijakan resmi atau menyatakan niat nyata untuk mengubah regulasi yang ada.
Ia sedang berada dalam periode berkampanye yang samar, dan dalam benaknya ini adalah isu mudah alias “free hit”. Ia membayangkannya seperti mengatakan bahwa kita memang butuh lebih banyak cokelat saat Natal: semua orang akan mengangguk, tanpa ada yang benar-benar berniat mewujudkannya. Karena itu, wacana ini praktis sudah mati sebelum berkembang, dan tak ada satu pun pihak berwenang yang serius menindaklanjutinya.
Kolumnisnya sendiri mengaku sangat menyukai minuman beralkohol, termasuk rasa hangat dan kabut mabuk yang menyenangkan pada gelas-gelas pertama. Namun ia menegaskan bahwa tidak ada yang benar-benar butuh jadi lebih mabuk saat menonton sepak bola. Kalau memang ada yang bersikeras ingin minum, menyelundupkan botol kecil gin ke dalam stadion bukanlah hal yang sulit dilakukan.
Sosok di Balik Wacana: Strategi dan Persona Burnham
Tanpa manifesto atau kampanye pemilu yang sungguh-sungguh, tempat terbaik untuk merasakan “Burnham-isme” yang mentah adalah video-video di halaman LinkedIn-nya. Di sana ia tampil menyenangkan, seolah selalu setuju dengan hampir semua orang, dan itu terasa aman baginya. Pendekatan semacam ini terlihat sebagai strategi yang cukup jernih, terutama karena politik kini terasa kian absurd.
Bandingkan dengan Keir Starmer, yang secara luas dianggap sebagai salah satu perdana menteri terburuk sepanjang masa, sosok yang dituduh kehilangan kendali atas imigrasi dan merusak ekonomi. Kenyataannya, imigrasi justru turun di era Starmer, dan ekonomi memang melambat tetapi tidak sampai parah. Masalah terbesar Starmer sebenarnya adalah kemampuannya berkomunikasi yang buruk, selalu memilih nada bicara yang berhati-hati dan cenderung menjengkelkan.
Burnham tampaknya memiliki pemahaman yang lebih mutakhir soal presentasi diri. Ia sadar harus memainkan dua peran sekaligus: peran publik sebagai semacam pekerjaan penutup agar orang tidak refleks membencinya, sebagaimana politikus lain pada akhirnya dibenci. Sementara itu, politik yang sesungguhnya, dengan pilihan-pilihan sulit dan kompromi yang biasa, harus diselundupkan diam-diam di balik citra itu. Ini mungkin tampak tidak ideal, tetapi itulah pilihan yang dipaksakan oleh zaman kepada para politikus, dan mungkin satu-satunya cara agar ia bisa benar-benar mengerjakan sesuatu sebelum dilahap kemarahan serta kebodohan jagat digital.
Dampak Nyata: Pub yang Terancam, Klub yang Diuntungkan
Ada alasan mendasar mengapa ide ini dinilai buruk, bukan cuma tak berguna. Melegalkan kembali minuman di tribun akan ikut mendorong penutupan pub dan memindahkan uang ke kantong klub-klub yang dimiliki oleh dana investasi. Sekilas membeli sepasang bir di dekat lapangan tampak tidak akan mengubah budaya pub, tetapi logikanya tidak sesederhana itu.
Larangan kecil yang sudah lama berlaku justru ikut membentuk budaya minum di luar stadion, dan hal itu menjadi salah satu dari sedikit elemen hari pertandingan yang masih hidup di luar medan magnet korporasi sepak bola. Pub adalah tempat yang hebat dan vital: bangunan beratap datar dengan karpet felt, dinding bergaya Tudor palsu, hingga camilan merek lokal yang hanya dijual di sana. Yang paling penting, pub masih menyediakan “ruang ketiga”, tempat orang bertemu dan tempat laki-laki benar-benar berbicara satu sama lain.
Datanya pun mendukung: ada 174 pub aktif dalam radius satu mil dari St James’ Park, sementara Molineux punya 50 pub, Portman Road 29, dan area Arsenal 33. Ketika Burnham duduk di Everton bersama Mark Carney dan merasa kesal karena tak bisa membeli Peroni seharga £9, ia sebenarnya hanya berjarak 15 menit jalan kaki dari 23 bar yang bertahan hidup justru dari menjual minuman kepada orang-orang yang haus. Pub beroperasi dengan margin yang tipis, dan hari pertandingan adalah jam sibuk mereka, dengan pesanan besar yang nyaris pasti. Maka mengapa harus mengalihkan sedikit saja dari uang itu ke fasilitas rekreasi institusional yang serba dikomodifikasi di seberang jalan?
Mengapa Minum di Tribun Bermasalah bagi Banyak Fans
Dari sekian banyak masalah yang dihadapi negeri itu, kurangnya akses terhadap alkohol jelas bukan isu yang mendesak. Saat ini, rata-rata pusat kota memiliki sekitar 60 gerai minuman keras per mil persegi. Jadi, bagi siapa pun yang saban hari berpindah dari satu toko minuman ke jalan berikutnya, memang akan sedikit membantu bila ia bisa mampir ke stadion untuk segelas bir hangat; tetapi tetap saja, tidak ada yang benar-benar perlu jadi lebih mabuk saat menonton bola.
Ada pula fakta bahwa anak muda sekarang tidak terlalu banyak minum, dan mereka yang sudah merasa tersisih—fans baru, khususnya perempuan—akan merasa dua kali lebih tidak nyaman berada di tengah kerumunan suporter yang mabuk. Sebagai penolakan pamungkas, dalam tiga menit setelah aturan ini dilegalkan, pasti ada saja orang yang melemparkan segelas bir ke udara. Terima kasih, tidak untuk usulan seperti itu.
Yang paling menarik, Burnham justru memilih minuman dan sepak bola sebagai isu yang jelas bersifat tribal, lalu memperkenalkan istilah “diskriminasi” seolah para penonton yang ingin minum adalah kelompok yang tertindas dan terorganisir. Padahal, kita bisa saja minum di opera tanpa problema, tetapi di sana kita tidak boleh menyanyikan lagu bersama, melakukan gerakan Poznan, atau menyebut orang lain dengan kata kasar. Lingkungan yang berbeda punya aturan yang berbeda, dan banyak penonton opera juga datang dari menonton Liga Premier. Jadi, apa sebenarnya inti perdebatan ini?
Sepak Bola sebagai Imperialis Budaya dan Cara Berpikir Usang
Anggapan bahwa ini adalah isu kultural yang vital murni berasal dari cara berpikir era 1980-an, ketika menaruh minat pada sepak bola berarti dicap sebagai preman dan utusan kelas pekerja yang tidak diinginkan. Situasi itu kini sudah berbalik total. Sebaliknya, sepak bola kini menjadi imperialis budaya yang menancapkan dirinya ke segala hal, selalu dan selalu menjual.
Ini juga menjadi contoh pertama yang sangat gamblang tentang upaya menggaet basis pendukung yang paling hidup hanya di lingkungan budaya Burnham sendiri. Dalam berita sepak bola terkait, Manchester United bahkan dikabarkan benar-benar menjual potongan lapangan, seolah melepas semua ironi dan menyerahkannya begitu saja. Mereka seakan menyerahkannya pesan: kita sudah mengosongkan tempat ini, membakar kursi kayu kalian, dan menjual kenangan kalian kembali. Mau pesan satu lagi bir beraroma buah khas Yorke and Cole, Tuan? Maka mengapa harus menaruh lebih banyak uang ke sana, dan bukan ke tempat dengan karpet berbulu yang masih menjalankan fungsi sosial yang otentik?
Semua itu tidak akan benar-benar terjadi. Polisi tidak menginginkannya, dan Burnham hanya mengulang kembali pendapat pribadinya. Namun wacana itu memberi petunjuk berharga tentang cara berpikirnya yang refleks. Proyeksi dirinya sebagai perdana menteri baru yang segar dan orisinal terdengar mengesankan, terlebih bagi seorang mantan penasihat khusus era Blair yang akan berusia 57 tahun pada Januari—usia yang sama dengan Jacob Rees-Mogg dan Woodstock.
Kesimpulan
Usulan agar penonton bisa minum di stadion sepak bola pada akhirnya hanyalah wacana yang tidak akan pernah terwujud. Polisi menolaknya, tidak ada kebijakan resmi yang mendukungnya, dan larangan yang berlaku sejak akhir 1980-an telah bertahan dengan alasan yang masuk akal. Yang lebih layak disorot adalah bahwa ide ini justru mengancam keberadaan pub sebagai ruang ketiga yang penting, sambil mengarahkan uang ke klub-klub milik dana investasi.
Sepak bola selalu mampu memberi tahu banyak hal, dan reaksi publik terhadap isu yang sebenarnya bukan isu ini adalah informasi yang berharga. Ia memperlihatkan bahwa cara pandang ala 1980-an belum sepenuhnya hilang dari panggung politik. Pada akhirnya, ini adalah pengingat sederhana: ada baiknya menunda sejenak, menikmati segelas minuman, lalu berpikir ulang tentang apa yang benar-benar penting.
