Kemenangan Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia: AS 17-0

Timnas Amerika Serikat U-17 putri membuka perjalanan mereka di Piala Dunia U-17 Wanita dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya: menghajar Samoa 17-0 pada laga yang digelar Senin. Hasil itu tercatat sebagai kemenangan terbesar dalam sejarah Piala Dunia di semua level usia, melampaui rekor margin gol yang sebelumnya dipegang laga antarnegara pada ajang yang sama-sama dikelola FIFA.

Bagi publik sepak bola, skor dua digit seperti ini langsung memancing dua reaksi sekaligus: kagum pada ketajaman lini serang AS, sekaligus tanda tanya soal kesenjangan kualitas antarnegara di turnamen kelompok umur. Laga di Salé, Maroko, itu mempertemukan salah satu negara dengan tradisi pembinaan usia muda paling mapan dengan tim yang baru sekali tampil di ajang ini, dan selisih kelasnya tercermin telak di papan skor. Pelatih AS, Ciara Crinion, menjadi pihak yang paling banyak dimintai komentar setelah pertandingan.

Rincian 17-0: Sepuluh Pencetak Gol dan 58 Tembakan

Yang membuat kemenangan ini istimewa bukan hanya angka 17, tetapi penyebarannya. Sepuluh pemain berbeda menyumbang gol untuk AS, sehingga tekanan tidak datang dari satu sosok saja, melainkan dari hampir seluruh lini. Di antara mereka, Maddie DiMaria menjadi pencetak gol terbanyak dengan enam gol, sementara Carolina Reyna dan Loradana Paletta masing-masing menorehkan dua gol.

Statistik pertandingan menggambarkan dominasi yang nyaris total. AS sudah unggul 9-0 saat turun minum, lalu menutup laga dengan total 58 tembakan ke gawang lawan. Meski kebobolan 17 kali, kiper Samoa, Susahna Peacock, tetap tampil sibuk dan mencatat 13 penyelamatan, sebuah angka yang menunjukkan bahwa skor sebenarnya bisa jauh lebih besar tanpa kontribusinya.

Crinion mengaku tidak menyadari bahwa timnya baru saja memecahkan rekor dunia. “Saya tidak sadar kami memecahkan rekor, tapi saya sangat bangga pada kelompok ini dan menyenangkan rasanya mereka punya catatan seperti itu di belakang nama mereka,” ujarnya kepada situs resmi FIFA. Pernyataan itu memberi nada yang tenang pada sebuah hasil yang secara angka terbilang luar biasa.

Sebagai pembanding, rekor margin gol sebelumnya di Piala Dunia 11 lawan 11 dipegang Maroko yang mengalahkan Kaledonia Baru 16-0 pada Piala Dunia U-17 pria 2025. Artinya, selisih satu gol yang diciptakan AS atas Samoa cukup untuk menggeser catatan yang usianya baru beberapa bulan.

Sosok di Balik Enam Gol: Maddie DiMaria

DiMaria adalah remaja 17 tahun asal St Louis yang masih duduk di bangku sekolah menengah dan sudah berkomitmen untuk bermain di level kuliah bersama North Carolina. Enam golnya bukan hanya torehan pribadi terbaik, tetapi juga mencatat rekor baru: jumlah gol terbanyak oleh pemain AS dalam satu pertandingan di level mana pun, sekaligus terbanyak oleh pemain mana pun dalam satu laga Piala Dunia Wanita di semua kategori usia.

Gol pertamanya baru lahir pada menit ke-63, yang berarti ia mengemas enam gol dalam rentang waktu kurang dari setengah jam pertandingan. Ia juga menjadi pemain pertama yang mencetak enam gol dalam satu laga putaran final FIFA sejak Erling Haaland membukukan sembilan gol di Piala Dunia U-20 pria 2019. Nama DiMaria kini berdiri di baris yang sama dengan penyerang kelas dunia yang jadi idolanya.

“Itu berarti segalanya; dia adalah inspirasi,” kata DiMaria tentang Haaland. “Menjadi pemain berikutnya setelah catatan itu benar-benar sebuah kehormatan. Saya sangat bersyukur karena semua rekan menemukan saya di posisi yang tepat.” Ucapannya menegaskan bahwa rekor individu tersebut lahir dari kerja kolektif, bukan sekadar insting seorang penyerang.

Latar Belakang: Format Baru FIFA dan Jarak Kualitas yang Melebar

Skor 17-0 tidak muncul di ruang hampa. FIFA memperluas peserta Piala Dunia U-17 dari 16 menjadi 24 tim mulai 2025, dan sejak tahun itu pula ajang pria maupun wanita digelar setiap tahun hingga 2029 sebagai bagian dari upaya memprioritaskan pembinaan usia muda. Kebijakan ini membuka pintu bagi negara-negara yang sebelumnya nyaris tidak pernah tampil di panggung dunia.

Samoa adalah salah satu contohnya. Mereka baru pertama kali tampil di Piala Dunia U-17 Wanita pada tahun lalu, dan menjadi satu dari tujuh tim yang mencicipi debut di ajang ini dalam dua tahun terakhir. Ketika jumlah peserta ditambah sementara tingkat perkembangan pembinaan tiap negara sangat beragam, laga dengan selisih gol ekstrem hampir tidak terhindarkan.

Dengan kata lain, hasil di Salé adalah konsekuensi logis dari desain turnamen yang lebih inklusif. Di satu sisi, kehadiran Samoa dan tim-tim debutan lain memberi pengalaman berharga yang sulit diperoleh lewat jalur lain. Di sisi lain, FIFA menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa keterbukaan itu tidak berubah menjadi pertandingan yang tidak kompetitif.

Antara Dominasi dan Etika Menghormati Lawan

Kemenangan ini langsung mengingatkan publik pada laga Piala Dunia Wanita 2019 di Prancis, ketika tim senior AS membantai Thailand 13-0. Saat itu Alex Morgan mencetak lima gol, dan setelah pertandingan muncul kritik yang menuduh Amerika Serikat sengaja memperbesar skor tanpa perlu. Turnamen 2019 sendiri merupakan edisi pertama yang dimainkan dengan format 24 tim.

Ketika itu, gelandang Julie Ertz memberi pembelaan yang sering dikutip ulang. “Cara kami menghormati lawan adalah dengan tidak menganggapnya enteng,” katanya. “Kami menanggapi setiap lawan dengan sangat serius. Kami bersiap dengan cara yang sama, punya laporan pemantauan, dan berlatih dengan intensitas tinggi. Itulah cara kami menunjukkan bahwa kami tidak akan meremehkan lawan mana pun.”

Pandangan itu relevan untuk membaca 17-0 di Maroko. Bagi tim pelatih, menurunkan intensitas justru bisa dianggap tidak sopan terhadap lawan, sementara bagi pengamat, selisih sebesar itu memunculkan pertanyaan soal keadilan kompetitif. Perdebatan lama ini kini kembali terbuka, dan besar kemungkinan akan mengiringi setiap laga bernasib serupa di turnamen-turnamen berikutnya.

Apa yang Menanti AS dan Peta Kekuatan U-17 Wanita

AS akan memainkan laga fase grup berikutnya pada Kamis melawan Kenya, tim yang kalah 3-0 dari China di pertandingan pembuka mereka. Di atas kertas, AS kembali dijagokan menang, tetapi hasil melawan Kenya akan lebih menarik dilihat dari cara Crinion mengelola menit bermain setelah kemenangan besar yang menguras perhatian.

Meski begitu dominan di laga pertama, Amerika Serikat belum pernah memenangi turnamen ini. Mereka mencapai final pada edisi perdana 2008, namun sejak itu hanya sekali lagi menembus semifinal, yakni pada 2024. Korea Utara datang sebagai juara bertahan, sehingga jalan AS untuk mengangkat trofi tetap harus melewati tim-tim yang jauh lebih sepadan.

Kemenangan 17-0 karena itu paling tepat dibaca sebagai pembuka yang mengesankan, bukan sebagai ramalan akhir turnamen. Rekor dunia sudah tercatat, sorotan sudah datang, dan kini tekanan justru berpindah ke pertandingan-pertandingan berikutnya, saat lawan yang dihadapi tidak lagi memberi ruang selebar yang didapat Samoa.

Yang tersisa dari Senin di Salé adalah catatan sejarah: sepuluh pencetak gol, 58 tembakan, dan enam gol seorang remaja 17 tahun yang kini namanya bersanding dengan Haaland. Bagi Samoa, laga ini menjadi pelajaran keras sekaligus pengalaman berharga di panggung yang baru mereka masuki. Bagi AS, ini adalah pembuka yang nyaris sempurna untuk turnamen yang gelarnya masih belum pernah mereka raih.