Mamdani dan Arsenal kembali menjadi sorotan, kali ini bukan karena perayaan gelar, melainkan karena desakan agar klub memutus sponsor utama asal Uni Emirat Arab (UAE) lantaran keterkaitannya dengan perang di Sudan. Dalam opini yang ditulis Sasha Lezhnev dan John Prendergast, Wali Kota New York Zohran Mamdani dinilai memiliki pengaruh besar sebagai salah satu penggemar Arsenal paling vokal di Amerika Serikat. Mereka berargumen bahwa posisi itu seharusnya dipakai untuk mendorong klub mengambil sikap terhadap dugaan dukungan UAE kepada milisi Rapid Support Forces (RSF).
Sorotan ini muncul karena dua hal yang melekat pada Mamdani bertabrakan: kecintaannya pada Arsenal dan komitmennya menentang genosida serta membela hak asasi manusia. Lezhnev, Senior Policy Advisor di The Sentry, dan Prendergast, pendiri bersama lembaga yang sama, menilai Mamdani tidak perlu berhenti mendukung tim. Namun, ia bisa memakai visibilitasnya untuk membuka percakapan dengan pemilik dan jajaran klub tentang asal-usul dana sponsor yang selama ini tampil di jersey Arsenal.
Mamdani dan Arsenal: Dua Gairah yang Berbenturan
Mamdani bukan penggemar biasa. Sejak kecil ia disebut sebagai pendukung Arsenal, dan setelah menjadi wali kota ia membuat klub London itu lebih sering masuk pembicaraan publik Amerika Serikat. Gedung Empire State pernah menyala merah-putih saat Arsenal menjuarai Premier League, sementara Mamdani menulis esai tentang makna gelar tersebut bagi dirinya. Ia juga membahas Arsenal dalam konferensi pers dan wawancara, serta meresmikan Thierry Henry Way di dekat Times Square untuk menghormati legenda klub itu.
Di sisi lain, Arsenal memiliki keterikatan komersial yang sangat kuat dengan UAE. Sponsor utama klub adalah Emirates Airlines, yang dimiliki Emirates Group, perusahaan induk milik negara yang berbasis di Dubai. Logo Emirates tampil di bagian depan setiap jersey, dan markas Arsenal di London memakai nama Emirates Stadium. Menurut artikel tersebut, UAE telah menggelontorkan lebih dari $1 miliar untuk mensponsori Arsenal, termasuk perpanjangan kontrak hingga 2033 dengan nilai lebih dari $100 juta per musim.
Bagi UAE, Arsenal bukan sekadar kerja sama biasa. Artikel itu menyebut Arsenal sebagai investasi olahraga terbesar kedua UAE di tingkat global, sehingga hubungan ini punya nilai citra yang besar. Di saat yang sama, para penulis menilai kedekatan tersebut menjadi masalah karena UAE juga dituduh mensponsori milisi yang bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan di Sudan. Inilah titik di mana dukungan Mamdani terhadap Arsenal berhadapan langsung dengan isu hak asasi manusia yang ia suarakan.
Krisis Sudan dan Tuduhan terhadap UAE
Menurut berbagai investigasi yang dikutip dalam opini tersebut, UAE memasok senjata dan drone pembunuh kepada RSF, milisi yang bertempur dalam perang Sudan. UAE disebut sebagai pemasok senjata dan drone terbesar bagi kelompok itu. Perang di Sudan telah menciptakan krisis pengungsian terbesar di dunia, dengan 14 juta orang atau seperempat populasi negara terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sebanyak 21 juta orang lainnya menghadapi kelaparan akut.
Dalam konteks itu, hubungan Arsenal dengan Emirates dipandang sebagai bagian dari strategi sportswashing UAE, yaitu upaya memperbaiki citra melalui olahraga. Para penulis menghitung bahwa pemerintah UAE telah membelanjakan lebih dari $5,2 miliar untuk mensponsori tim dan liga olahraga di berbagai belahan dunia. Daftarnya tidak hanya Arsenal atau Manchester City, tetapi juga juara NBA New York Knicks yang juga didukung Mamdani, Emirates NBA Cup, dan Formula One. Ada pula sejumlah tim lain di cabang sepak bola, bola basket, bersepeda, rugby, dan kriket yang menerima sponsor dari UAE.
Karena itu, para penulis tidak melihat kritik terhadap sponsor Arsenal sebagai serangan terhadap penggemar atau prestasi tim. Mereka menempatkannya sebagai persoalan bagaimana klub memilih sumber pendapatan ketika ada tuduhan pelanggaran berat di baliknya. Bagi mereka, sikap Mamdani bisa menjadi jembatan antara kecintaan pada klub dan tanggung jawab moral yang ia bawa sebagai pejabat publik. Posisi itu dinilai lebih efektif daripada meminta penggemar meninggalkan Arsenal.
Preseden Visit Rwanda dan Peluang Perubahan
Ada alasan untuk optimistis bahwa Arsenal bisa mengubah arah. Pada tahun sebelumnya, klub mengakhiri kerja sama dengan sponsor lengan, Visit Rwanda, setelah invasi Rwanda ke Republik Demokratik Kongo dan bencana kemanusiaan yang menyusul. Dalam opini itu disebut lebih dari 8 juta orang mengungsi akibat invasi tersebut, sementara Rwanda dituduh memimpin milisi M23 yang melakukan penyiksaan, kekerasan seksual secara luas, dan merekrut tentara anak. Arsenal Supporters’ Trust ikut bersuara setelah kampanye seperti Gunners for Peace, dan pemilik klub akhirnya mengubah keputusan.
Preseden itu menunjukkan bahwa tekanan publik dan suara pendukung dapat memengaruhi kebijakan sponsor klub. Menurut para penulis, kini giliran Arsenal untuk menangani sponsor sportswashing yang lebih besar, dan Mamdani dapat memainkan peran penting dalam proses itu. Sebagai salah satu penggemar Arsenal paling terlihat di dunia, suaranya dinilai akan didengar oleh para pengambil keputusan di klub. Pemilik Arsenal, Josh dan Stan Kroenke, disebut sebagai pemilik asal Amerika Serikat yang pernah menunjukkan sikap terkait isu hak asasi manusia, misalnya ketika menyerukan larangan seumur hidup bagi Don Sterling, mantan pemilik Los Angeles Clippers, karena pernyataan rasis.
Dalam pandangan Lezhnev dan Prendergast, Mamdani bisa menyadarkan Kroenke dan jajaran Arsenal tentang praktik sportswashing UAE. Ia dapat menyerukan perubahan sponsor secara terbuka maupun tertutup, dengan alasan bahwa UAE mendukung milisi yang dituduh terlibat dalam genosida di Sudan. Klub juga dinilai tidak berada dalam posisi finansial yang sulit untuk mengambil langkah itu. Setelah menjuarai liga dan mencapai final Liga Champions, Arsenal disebut meraup $411 juta, rekor bagi klub, dan kini dilaporkan menjadi klub sepak bola paling menguntungkan di Inggris.
Dampak Jika Arsenal Meninggalkan UAE
Kebutuhan finansial bukan satu-satunya pertimbangan, karena ada alternatif sponsor yang dinilai layak. Artikel itu menyebut Snapdragon, merek teknologi dari Qualcomm, membayar sekitar jumlah yang sama untuk mensponsori Manchester United seperti yang dibayar Emirates ke Arsenal. Produsen mobil Jeep dan perusahaan telekomunikasi T-Mobile juga disebut membayar Juventus dan Bayern Munich dengan nilai yang hanya sedikit di bawahnya. Dengan kata lain, menurut para penulis, Arsenal punya ruang untuk mencari pengganti tanpa harus kehilangan daya saing komersial.
Dampak pemutusan kontrak juga tidak akan berhenti di London. UAE sangat sensitif terhadap citra publik, sehingga pembatalan kerja sama dengan Arsenal berpotensi menjadi pukulan hubungan masyarakat yang besar. Para penulis menilai intervensi Mamdani bisa memiliki implikasi hak asasi manusia yang berarti, bukan hanya bagi klub tetapi juga bagi upaya menarik perhatian publik terhadap krisis Sudan. Dalam konteks perang Sudan, tekanan simbolik seperti ini dinilai tetap relevan karena menyentuh salah satu krisis kemanusiaan paling mematikan di dunia.
Karena itu, isu ini tidak perlu dibingkai sebagai pilihan antara mencintai Arsenal dan membela hak asasi manusia. Para penulis justru melihatnya sebagai kesempatan untuk menyatukan ketiga hal yang menjadi perhatian Mamdani: hak asasi manusia, upaya menentang genosida, dan dukungan kepada tim favoritnya. Mereka mendorong warga New York serta sesama penggemar Arsenal untuk mendesak Mamdani bersuara kepada klub. Dengan begitu, pengaruh seorang wali kota dan seorang penggemar besar bisa diarahkan pada persoalan yang jauh lebih luas daripada sepak bola.
