Enzo Maresca menegaskan dirinya sama sekali tidak khawatir dengan performa Marc Guéhi, meski sang bek turut menjadi penyebab tiga gol yang bersarang ke gawang Manchester City dalam dua pertandingan Liga Primer terakhir. Pernyataan itu keluar usai kekalahan pertama Manchester City musim ini, ketika Aston Villa menang 2-1 di Villa Park lewat dua gol Nicolas Jackson.
Sorotan terhadap Guéhi memang wajar. Dalam laga ini ia gagal mengontrol bola pada proses gol pembuka, dan kesalahan serupa ikut berperan saat City kebobolan dua kali dari Ipswich akhir pekan sebelumnya. Meski begitu, Maresca memilih membela pemainnya secara terbuka dan menilai persoalannya lebih pada kelelahan serta situasi pertandingan, bukan penurunan kualitas sang bek.
Jalannya Laga: Blunder Guéhi dan Dua Gol Jackson
Gol pembuka Aston Villa lahir dari situasi yang seharusnya bisa diamankan City. Guéhi gagal menguasai bola dengan rapi, bola justru memantul ke arah John McGinn, yang kemudian meneruskannya kepada Jackson untuk diselesaikan menjadi gol pertama dari dua golnya malam itu.
Setelah insiden tersebut, performa Guéhi tidak kunjung stabil. Ia menerima kartu kuning pada menit ke-32, dan pelatih memilih menariknya keluar saat turun minum. Pergantian itu disebut Maresca sebagai keputusan yang mempertimbangkan risiko bermain dengan bek yang sudah mengantongi kartu kuning.
Jackson menambah satu gol lagi dan memastikan kemenangan 2-1 untuk tuan rumah. Bagi City, hasil ini menjadi patahnya rekor sempurna mereka sepanjang musim, sekaligus menandai pertama kalinya mereka kehilangan poin di Liga Primer.
Maresca Tetap Membela Guéhi
Dalam konferensi pers setelah laga, Maresca menepis anggapan bahwa Guéhi sedang dalam masa sulit. Ia menekankan bahwa sang bek telah memainkan hampir setiap menit sejak awal musim, baik bersama klub maupun bersama tim nasional, sehingga beban fisiknya jauh dari ringan.
“Saya sama sekali tidak khawatir soal Marc,” ujar Maresca. Ia menjelaskan bahwa pergantian di babak kedua juga dilatarbelakangi kartu kuning yang sudah dipegang Guéhi, karena gaya bermain agresif yang diterapkan tim membuat pemain dengan kartu kuning rentan menanggung risiko lebih besar.
Dukungan seperti ini penting bagi seorang bek tengah yang sedang disorot. Alih-alih menjadikan kesalahan individual sebagai kambing hitam, Maresca memilih membingkai masalahnya sebagai persoalan kolektif dan manajemen beban pertandingan yang harus diperbaiki bersama-sama.
City Dominan, tapi Tidak Cukup Klinis
Statistik pertandingan memperlihatkan City sebenarnya menguasai jalannya laga. Mereka melepaskan 15 tembakan berbanding delapan milik Aston Villa, namun hanya sedikit yang benar-benar mengancam gawang. Sebaliknya, Villa mencetak dua gol dari dua-satunya tembakan tepat sasaran yang mereka miliki.
Maresca menilai timnya layak mendapatkan hasil lebih baik dilihat dari jumlah peluang yang diciptakan maupun peluang yang diberikan kepada lawan. Menurutnya, kekalahan terjadi karena City kurang tajam di dalam kotak penalti lawan, ditambah gol kedua Villa yang lahir dari situasi transisi.
Ia juga menyoroti sulitnya menghindari pola semacam itu sepanjang pertandingan. Pelatih berusia 45 tahun itu memilih menjadikan laga ini sebagai bahan pembelajaran, dengan fokus untuk segera bergerak maju dan memperbaiki penyelesaian akhir timnya pada pertandingan berikutnya.
Nicolas Jackson Mulai Menuai Hasil Kerja Keras
Dua gol ke gawang City membuat Jackson mengoleksi tujuh gol sejak kepindahannya dari Chelsea. Sepanjang laga ia menjadi ancaman konstan bagi bek tengah City, yang kesulitan mengantisipasi kecepatan, kekuatan fisik, serta ketenangan sang penyerang dalam menyelesaikan peluang.
Unai Emery mengaku senang dengan perkembangan anak asuhnya itu. Menurutnya, Jackson adalah tipe pemain yang menuntut banyak hal dari dirinya sendiri, dan kerja keras itu mulai terlihat pada kualitas penyelesaian akhir yang jauh membaik dibandingkan awal musim.
“Dulu ia banyak melepaskan tembakan yang melambung,” kata Emery. Kini, lanjutnya, Jackson jauh lebih baik dalam menembak, memahami betul di mana tim membutuhkannya, dan menjalankan tugas taktis dengan sangat disiplin. Bagi Emery, dua gol hanyalah bonus dari cara kerja sang pemain sepanjang pertandingan.
Zion Suzuki Mulai Membuktikan Nilainya
Selain Jackson, kiper Zion Suzuki menjadi sosok kunci di balik kemenangan ini. Ia mencatat sejumlah penyelamatan penting di babak kedua yang membuat City gagal menyamakan kedudukan meski terus menekan. Performanya bahkan membuatnya bersaing sebagai pemain terbaik pertandingan.
Kiper asal Jepang itu didatangkan Villa pada musim panas sebagai penerus Emiliano Martínez, dan penampilan melawan City menjadi salah satu bukti mengapa klub begitu berambisi mendapatkannya. Matty Cash mengaku terkesan sejak sesi latihan pertama, ketika Suzuki terlihat begitu nyaman dalam permainan penguasaan bola.
“Visi permainannya luar biasa, dan ia sangat baik dalam menangkap bola silang,” kata Cash kepada TNT Sport. Bagi seorang bek sayap, kiper yang berani keluar mengantisipasi umpan lambung tentu menjadi keuntungan besar karena memberi rasa aman pada lini pertahanan.
Dampaknya bagi Persaingan Musim Ini
Kekalahan ini menjadi sinyal bahwa City tidak akan berjalan mulus sepanjang musim, sekalipun mereka tetap menjadi salah satu tim paling produktif dalam menciptakan peluang. Sebaliknya, hasil di Villa Park menunjukkan bahwa tim-tim pesaing memiliki cara efektif untuk membalas dominasi penguasaan bola dengan efisiensi di depan gawang.
Bagi Villa, kemenangan ini membuktikan bahwa perekrutan musim panas mereka mulai berbuah. Kombinasi penyerang yang makin tajam dan kiper baru yang cepat beradaptasi memberi mereka fondasi untuk bersaing lebih konsisten, bukan sekadar mengejutkan tim besar sesekali.
Sementara itu, posisi Guéhi akan tetap menjadi perhatian. Dengan jadwal yang padat, Maresca harus menyeimbangkan kebutuhan untuk terus memainkannya dengan risiko kelelahan dan tekanan mental akibat rangkaian kesalahan. Cara pelatih mengelola situasi ini akan menentukan apakah sorotan terhadap sang bek mereda atau justru membesar.
Kesimpulan
Kekalahan pertama Manchester City musim ini lahir dari kombinasi buruknya penyelesaian akhir dan kesalahan individual di lini belakang, dengan Guéhi berada tepat di pusat sorotan. Namun Maresca memilih membela pemainnya, menilai masalah utama tim adalah ketidakmampuan memaksimalkan 15 tembakan yang mereka ciptakan.
Di sisi lain, laga ini menjadi panggung bagi Nicolas Jackson dan Zion Suzuki untuk menunjukkan nilai mereka bagi Aston Villa. Bagi City, pertanyaan sesungguhnya bukan sekadar tentang satu blunder, melainkan seberapa cepat mereka mengubah dominasi menjadi gol sebelum selisih poin mulai terasa di klasemen.
