Arbeloa Fulham di Ujung Tanduk Usai Kalah dari Ipswich

Tekanan terhadap Álvaro Arbeloa di Fulham kian memuncak setelah timnya menyerahkan keunggulan dan kalah 2-1 dari Ipswich Town pada laga terakhir. Hasil itu membuat Fulham terpuruk di posisi terbawah klasemen menjelang pertemuan dengan Hull di Craven Cottage pada Sabtu mendatang. Bagi seorang pelatih yang baru menangani klub Liga Primer pertamanya, situasi ini jelas bukan awal yang diharapkan.

Kegelisahan para pendukung tidak lahir dari udara kosong. Mereka masih menyimpan ingatan tentang Marco Silva, sosok yang meninggalkan Craven Cottage musim panas lalu untuk bergabung dengan Benfica setelah merasa tidak ada lagi yang bisa dicapai bersama Fulham. Ketika Silva pergi, muncul kekhawatiran bahwa proyek yang dibangunnya perlahan akan runtuh — dan kini kekhawatiran itu terasa semakin nyata di bawah kepemimpinan Arbeloa.

Keruntuhan Fulham dan Keputusan Taktik yang Dipertanyakan

Saat menghadapi Ipswich, Fulham sedang unggul 1-0 dan tampak berada di jalur yang tepat untuk meraih kemenangan liga pertama mereka musim ini. Namun Arbeloa justru melemahkan lini tengahnya pada menit ke-70 dengan menarik keluar Shea Charles dan memasukkan Manuel Ángel. Keputusan itu menjadi titik balik yang membuat Fulham kehilangan kendali atas pertandingan.

Pergantian tersebut sulit dipahami jika tujuannya adalah memperkuat pertahanan. Charles punya postur tubuh yang mengesankan, tampil baik sejak didatangkan dari Southampton, dan berduet efektif dengan Sander Berge di jantung lini tengah. Sebaliknya, Ángel yang berusia 22 tahun hanya setinggi 5 kaki 7 inci, baru menjalani debut di Liga Primer, dan minim pengalaman bermain di level senior.

Arbeloa juga melakukan sejumlah penyesuaian lain, termasuk memasukkan Rodrigo Muniz dan mengubah formasi dari 4-2-3-1 menjadi 4-4-2 datar demi menjaga keunggulan. Kombinasi keputusan itu membuat kebangkitan Ipswich menjadi sesuatu yang seolah sudah bisa diprediksi. Ketika Abdoul Ouattara, bek kanan Ipswich, menyamakan kedudukan, Emile Smith Rowe yang masuk sebagai pengganti terlambat menutup pergerakan lawan.

Gol kemenangan Ipswich lahir dari situasi bola mati yang dipertahankan dengan buruk, menegaskan masalah yang lebih mendasar: Fulham belum mampu mengelola pertandingan secara dewasa. Secara keseluruhan, tim asal London barat itu sudah kehilangan delapan poin dari posisi unggul, dan kelemahan fisik mereka terekspos sepanjang laga.

Warisan Silva dan Bayang-bayang di Craven Cottage

Perbandingan dengan Silva bukan sekadar nostalgia. Pelatih asal Portugal itu dikenal sebagai salah satu manajer paling efektif di Liga Primer dalam hal memanfaatkan pemain pengganti. Para pemain yang ia masukkan dari bangku cadangan terlibat dalam kontribusi gol tertinggi keempat di liga pada musim lalu, sekaligus yang terbanyak pada musim 2024-25.

Yang lebih penting, Fulham di bawah Silva tahu cara bertahan dan menyelamatkan poin dari situasi yang tampak mustahil. Karakter timnya bisa menyerang, tetapi juga keras, disiplin, dan cerdik dalam membaca situasi pertandingan. Silva meninggalkan Craven Cottage setelah berkesimpulan bahwa ia sudah mencapai batas kemampuannya di sana, lalu melanjutkan karier di Benfica.

Kehadiran Silva selama ini memberi stabilitas yang jarang dimiliki Fulham. Karena itulah, ketika ia pergi, muncul kekhawatiran bahwa fondasi proyek klub akan goyah. Kini, pertanyaan soal siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas keberlanjutan proyek tersebut mulai mengemuka, khususnya terkait keputusan menunjuk pelatih dengan pengalaman manajerial yang terbatas.

Sorotan pada Keluarga Khan dan Rekrutan dari Madrid

Pertanyaan tajam kini diarahkan kepada keluarga Khan, pemilik Fulham, atas keputusan menunjuk seseorang yang pengalaman kepelatihannya sebatas menjalani periode interim bersama Real Madrid musim lalu. Tony Khan, direktur sepak bola sekaligus putra Shahid Khan, pernah menghadapi kritik keras di masa lalu, dan kini rencana suksesi itu kembali dipertanyakan. Silva dulu menawarkan stabilitas; tanpa dia, risiko proyek ini berantakan selalu membayangi.

Arbeloa sendiri tidak membantu posisinya ketika menjawab pertanyaan soal tekanan seusai kalah dari Ipswich. Ia menyebut pernah bermain untuk tim terbaik di dunia dan pernah melatih tim terbaik di dunia. Pernyataan itu terasa canggung, terutama karena ia tidak memenangi trofi apa pun saat menangani Madrid, dan justru berisiko memberi kesan bahwa klubnya saat ini seharusnya merasa beruntung memilikinya.

Alis pun terangkat karena tiga dari rekrutan musim panasnya berasal dari klub lamanya. Manuel Ángel, César Palacios, dan Gonzalo García adalah pemain muda menjanjikan milik Real Madrid yang sama-sama memiliki agen yang juga mewakili Arbeloa. Palacios, gelandang 21 tahun dengan umpan-umpan kreatif, serta García, penyerang lincah berusia 22 tahun, memang layak diberi waktu untuk beradaptasi dengan liga baru.

Namun waktu tidak selalu berpihak pada pelatih yang sedang tertekan. García, yang didatangkan dengan harga £40 juta, baru mencetak satu gol di liga dari 18 tembakan dan tampil kesulitan melawan Ipswich, jarang memenangi duel dan tidak efektif dalam menekan. Sementara itu, Ángel masih mencari ritme permainan di level tertinggi.

Kekhawatiran Suporter dan Masalah yang Menumpuk

Para pendukung Fulham semakin gelisah dengan cara Arbeloa mengelola skuadnya. Mereka mempertanyakan mengapa Kevin, pemain sayap asal Brasil, lebih sering dimainkan di sisi kanan ketimbang kiri, serta merasa rotasi dilakukan terlalu sering tanpa pola yang jelas. Kekhawatiran lain adalah kebiasaan tim kebobolan di menit-menit akhir, seperti yang terjadi melawan Sunderland, Crystal Palace, dan Manchester United.

Masalah defensif Fulham terlihat sejak laga pembuka, ketika mereka tampil begitu terbuka dalam kekalahan 3-2 dari Chelsea. Rata-rata expected goals yang diciptakan lawan mencapai 10,3 dalam enam pertandingan, angka yang menggambarkan betapa rapuhnya struktur pertahanan tim. Situasi itu diperberat dengan hilangnya dua pencetak gol utama, Raúl Jiménez dan Harry Wilson, yang belum tergantikan perannya.

Ada pula argumen yang menilai bahwa perubahan gaya permainan memang membutuhkan waktu. Sebagian pemain dikabarkan masih belum sepenuhnya memahami taktik sang manajer, dan beberapa penggawa lama tersingkir — Joachim Andersen, bek tengah berpengaruh asal Denmark, tidak cocok dengan garis pertahanan tinggi sehingga posisinya diambil David Affengruber. Meski demikian, peremajaan skuad juga didorong kebutuhan mematuhi regulasi finansial, dan tidak ada yang salah secara prinsip dengan upaya memainkan sepak bola yang lebih menarik.

Konteks Lebih Luas: Ambisi Menyerang Melawan Realitas Bertahan

Ketika Fulham memutuskan beralih ke gaya yang lebih ekspansif, mereka tampaknya tidak memperhitungkan bahwa tim-tim promosi justru tampil di atas ekspektasi. Coventry, Hull, dan Ipswich semuanya melampaui perkiraan, sehingga laga melawan Ipswich yang semula dianggap titik balik berubah menjadi jebakan. Niat Fulham bermain lebih terbuka di bawah Arbeloa berisiko berbalik menyerang mereka sendiri.

Fulham juga tengah mencari cara untuk naik kelas setelah empat musim terakhir selalu mengintip kualifikasi Eropa, tetapi berakhir di paruh bawah klasemen. Ekspektasi untuk melangkah lebih jauh itu wajar, namun ada bahaya nyata bahwa klub dengan salah satu anggaran terkecil di liga lupa apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk bertahan hidup di Liga Primer.

Tekanan finansial memperumit semuanya. Fulham mencatat kerugian £45 juta pada tahun fiskal terakhir dan telah mengeluarkan dana besar untuk renovasi Riverside Stand. Keluarga Khan jelas membutuhkan kepastian bertahan di Liga Primer, dan kebutuhan itu bertabrakan dengan eksperimen gaya permainan yang belum membuahkan hasil.

Penutup

Arbeloa datang dengan gagasan besar, tetapi hasil di lapangan belum mengikuti. Delapan poin yang hilang dari posisi unggul, pertahanan yang rapuh, dan pergantian pemain yang membingungkan membuat posisinya sebagai manajer Fulham semakin tidak nyaman. Kemenangan melawan Hull terasa wajib, bukan hanya untuk mengangkat moral tim, tetapi juga untuk meredam tuntutan akan perubahan di kursi kepelatihan.

Jika tidak ada perbaikan signifikan dalam waktu dekat, bulan ini bisa menjadi periode yang menentukan. Fulham perlu menemukan keseimbangan antara ambisi bermain menyerang dan kedisiplinan yang dulu menjadi ciri khas mereka di bawah Silva. Tanpa itu, kekhawatiran akan degradasi yang kini tumbuh di kalangan pendukung hanya akan semakin sulit dibendung.