Krisis Manchester United: Seburuk Itukah Posisi 13?

Krisis Manchester United kian terasa setelah klub berjuluk Setan Merah itu terdampar di peringkat 13 Premier League dengan hanya empat poin dari empat pertandingan pertama. Rentetan hasilnya sendiri belum menunjukkan tanda-tanda konsistensi: kalah 2-0 di markas Hull, menang 5-2 atas Ipswich, bermain imbang 2-2 di Everton, lalu takluk 1-0 dari Manchester City pada laga derby hari Minggu. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah posisi di tabel klasemen itu benar-benar menggambarkan kualitas tim asuhan Michael Carrick, atau ada faktor lain yang membuat keadaan terlihat lebih buruk dari yang sebenarnya.

Soccer Football – UEFA Champions League – Manchester United v Sabah – Old Trafford, Manchester, Britain – September 10, 2026 Manchester United manager Michael Carrick before the match REUTERS/Phil Noble

Kekalahan dari City memang menyisakan sedikit ruang pembelaan bagi United. Laga derby itu digelar hanya tiga hari setelah United menang atas Sabah di Liga Champions pada Kamis, sementara tim asuhan Enzo Maresca menikmati tambahan waktu istirahat sekitar 48 jam lebih banyak setelah menang di Porto. Dengan agenda sepadat itu, United kini harus menjamu Brighton di ajang Carabao Cup pada Rabu sebelum bertandang ke Fulham di liga pada Minggu, dua laga yang bisa menentukan apakah tren buruk ini berlanjut atau justru berbalik.

Empat Laga, Empat Poin: Seberapa Buruk Awal Musim United?

Secara angka, pembukaan musim United memang jauh dari standar yang diharapkan. Empat poin dari empat pertandingan menempatkan mereka di posisi 13, dan satu-satunya kemenangan sejauh ini lahir saat menghantam Ipswich dengan skor 5-2. Sementara itu, kekalahan 2-0 di Hull dan hasil imbang 2-2 di Everton memperlihatkan bahwa konsistensi masih menjadi persoalan utama, terlepas dari siapa pun lawan yang dihadapi.

Kekalahan 1-0 dari Manchester City di Old Trafford menambah tekanan, meski konteksnya perlu dibaca secara adil. Derby itu berlangsung tiga hari setelah United menjalani laga Liga Champions melawan Sabah pada Kamis, sedangkan City punya waktu pemulihan 48 jam lebih panjang menyusul kemenangan mereka di Porto. Selisih waktu istirahat sebesar itu jelas berpengaruh terhadap kesegaran pemain di pertandingan seintens derby Manchester.

Agenda berikutnya pun tidak memberi ruang untuk bernapas. Brighton akan datang ke Old Trafford pada Rabu di ajang Carabao Cup, kemudian United bertandang ke Fulham pada Minggu untuk lanjutan Premier League. Dua pertandingan dalam rentang sepekan ini menjadi ujian nyata bagi kemampuan Carrick menjaga tim tetap kompetitif di tengah jadwal yang menumpuk.

Krisis Manchester United di Bawah Carrick dan Hantu Solskjær

Sejarah pernah memberi contoh bagaimana seorang pelatih interim bisa langsung bersinar, lalu kehilangan momentum begitu diangkat permanen. Ole Gunnar Solskjær ditunjuk sebagai manajer sementara pada Desember 2018 menggantikan José Mourinho, lalu memenangi 14 dari 19 pertandingan dan mendapat kontrak tetap pada Maret 2019. Setelah itu performanya justru terjun bebas, dengan hanya dua kemenangan dari 10 laga, dan United mengakhiri musim di peringkat keenam—posisi yang sama seperti saat Solskjær pertama kali datang.

Michael Carrick punya jalur yang sekilas mirip. Ia sempat membangkitkan United sebagai pelatih interim musim lalu setelah kisruh dan pemecatan Ruben Amorim, lalu mengantar tim finis di peringkat ketiga. Namun begitu diberi posisi permanen, hasil yang diraih justru menurun, sebuah pola yang mengingatkan pada pengalaman Solskjær. Perlu dicatat, situasi keduanya tidak sepenuhnya identik: Solskjær dulu mewarisi tim yang tidak stabil dan posisinya tidak pernah benar-benar aman sampai ia dipecat pada November 2021, sehingga pengalaman pahit itu tidak otomatis akan dialami oleh mantan rekan setim sekaligus asistennya tersebut.

Meski demikian, masa depan Carrick tampak masih menyisakan keraguan di level manajemen. Petunjuknya bisa dilihat dari singkatnya durasi kontrak yang diberikan kepadanya, yaitu hingga 2028, yang memunculkan spekulasi bahwa direktur sepak bola Jason Wilcox mungkin menyimpan reservasi sebelum menunjuknya. Jika hasil buruk terus berlanjut, pertanyaan mengapa United kembali terlalu cepat mempercayakan jabatan ini kepada mantan pemain populernya akan semakin sulit dibendung.

Pasifnya United Saat Bermain dengan Keunggulan Pemain

Salah satu sorotan terbesar dari kekalahan derby adalah sikap pasif United ketika seharusnya berada di atas angin. Phil Foden dikartu merah pada menit ke-23 di Old Trafford, sehingga United bermain dengan keunggulan jumlah pemain selama lebih dari satu jam pertandingan. Namun alih-alih menekan dan menguasai permainan, pasukan Carrick justru terlihat datar dan tidak mampu mengubah keunggulan itu menjadi gol.

Poros lini tengah yang diisi Kobbie Mainoo dan Youri Tielemans gagal mengendalikan permainan maupun menciptakan peluang bagi empat pemain di lini depan: Bruno Fernandes, Bryan Mbeumo, Matheus Cunha, dan Marcus Rashford. Statistik menegaskan masalah tersebut, karena untuk pertama kalinya dalam 12 laga kandang Premier League di bawah Carrick, United menghasilkan xG di bawah 1,0, tepatnya 0,95. Angka ini semestinya lebih mengkhawatirkan Carrick ketimbang keputusan VAR yang nyaris terkesan konyol dan memungkinkan Erling Haaland mencetak gol kemenangan, sebab Enzo Fernández—sebagaimana diakui pihak Pro Ref—terbukti ikut mengganggu jalannya permainan.

Masalah yang sama sudah terlihat sejak kekalahan pembuka di Hull. Ketika itu Andrey Santos mendampingi Tielemans di lini tengah, tetapi ancaman gol United nyaris nol dan penampilan mereka nyaris seluruhnya pasif. Pola ini menunjukkan bahwa persoalan United bukan hanya soal hasil akhir, melainkan juga cara tim bermain dan keberanian mengambil inisiatif.

Bek Kiri Baru yang Tak Kunjung Berlabuh

Ada satu celah yang sejak lama terlihat jelas namun tidak pernah ditutup, yaitu posisi bek kiri. Sepanjang jendela transfer musim panas, United disebut terus memburu pemain di posisi itu, mulai dari Lewis Hall milik Newcastle yang menjadi target utama, Myles Lewis-Skelly dari Arsenal, hingga David Raum dari RB Leipzig. Namun semuanya berakhir tanpa hasil, dan kegagalan menutup kebutuhan yang begitu jelas terasa amatir sekaligus sulit diterima Carrick.

Yang terjadi justru sebaliknya, karena United mendatangkan tiga gelandang sekaligus: Youri Tielemans, Andrey Santos, dan Carlos Baleba. Padahal, dengan adanya Mainoo dan Manuel Ugarte—yang kini mengalami cedera jangka panjang—bisa dibilang satu rekrutan tambahan di lini tengah sudah terlalu banyak. Dana yang dikeluarkan untuk Santos, misalnya sekitar £48 juta plus £2 juta, sebenarnya bisa dialihkan untuk mendatangkan bek kiri.

Empat laga berjalan cukup untuk memperlihatkan risiko dari keputusan tersebut. Luke Shaw, bek kiri pilihan utama yang kariernya akrab dengan cedera, tidak bisa tampil saat City bertandang karena mengalami masalah ringan, sehingga Carrick terpaksa memasang pemain tambal sulam, Patrick Dorgu. Ironisnya, pada pertemuan yang sama musim lalu, pemain asal Denmark itu justru ditempatkan sebagai penyerang sayap kiri dan mencetak gol.

Pada laga Minggu, ketika Josko Gvardiol mengirim umpan silang dari sisi kanan United dan Haaland menyelesaikannya di tiang jauh, Dorgu justru berada di posisi yang salah karena ia yang berusaha menghalau pemain Kroasia itu, bukan menjaga zona bek kiri untuk mengawal striker City. Kesalahan tidak berhenti di situ, sebab sundulan melenceng Dorgu pula yang menyerahkan bola kepada City dan membuka jalan bagi serangan yang berujung gol. Rangkaian momen ini menegaskan bahwa kelemahan di sisi kiri pertahanan bukan sekadar persoalan individu, melainkan akibat kebijakan transfer yang tidak tuntas.

Rekrutan Musim Panas Belum Membayar Investasi

Dengan total investasi sekitar £148 juta, United mendapatkan Santos, Tielemans (£35 juta), dan Carlos Baleba (£65 juta). Hasilnya sejauh ini jauh dari memuaskan: Santos baru sekali menjadi starter, yaitu pada kekalahan di Hull, sementara Tielemans tampil tanpa banyak berdampak meski selalu masuk starting XI di empat laga liga. Baleba, sang rekrutan utama, bahkan belum menyentuh bola sama sekali karena cedera dan baru diperkirakan kembali setelah jeda internasional.

Semua ini mungkin tidak akan menjadi masalah jika hasil tim sedang bagus, tetapi dengan posisi di papan bawah klasemen, setiap pembelian mahal otomatis berubah menjadi sorotan. Dalam sebuah wawancara di kamp latihan pramusim United di County Kildare pada Agustus lalu, Tielemans mengaku tidak ada klub lain yang tertarik mengaktifkan klausul rilis £35 juta miliknya di Aston Villa. Karena itu, kapten tim nasional Belgia tersebut dituntut memberi lebih banyak, bukan hanya sebagai pemain tetapi juga sebagai pemimpin di ruang ganti.

Sudah Waktunya Benjamin Sesko Jadi Starter?

Benjamin Sesko kembali dari cedera tepat saat musim bergulir dan sejauh ini selalu masuk sebagai pemain pengganti di laga-laga liga United. Ia juga sempat menjadi starter saat menjamu Sabah dan mencetak gol, serta mencatatkan namanya di papan skor dalam hasil imbang 2-2 di Everton. Berkat torehan itu, pemain Slovenia tersebut kini masuk jajaran pencetak gol terbanyak ketiga United di liga, di belakang Bruno Fernandes dengan tiga gol dan Bryan Mbeumo dengan dua gol.

Sebaliknya, Matheus Cunha dan Marcus Rashford sama sekali belum mencetak gol di liga meski masing-masing sudah diberi kepercayaan sebagai starter sebanyak empat dan tiga kali. Ketajaman serta sifat langsung Sesko sebagai penyerang tengah murni bisa menjadi opsi yang layak dicoba sejak menit pertama saat United bertandang ke Fulham. Jika lini depan terus mandul, memberi ruang lebih besar kepada pemain yang sedang dalam kepercayaan diri tinggi menjadi langkah logis yang sulit dibantah.

Melihat seluruh persoalan di atas, posisi 13 dan empat poin dari empat laga memang bukan sekadar ketidakberuntungan semata. Ada pola pasif saat menguasai bola, minimnya kreativitas dari lini tengah, celah di posisi bek kiri yang tidak ditutup, serta rekrutan mahal yang belum memberi kontribusi nyata. Kekalahan dari Manchester City bisa dimaklumi sebagian karena faktor kelelahan, tetapi masalah yang sama sudah muncul sejak awal musim dan menyentuh hampir semua lini.

Dengan laga melawan Brighton di Carabao Cup dan lawatan ke Fulham di liga yang sudah menanti, Carrick punya kesempatan sekaligus tekanan untuk membuktikan bahwa krisis Manchester United ini hanya fase awal yang masih bisa dibalik. Jika tidak, pertanyaan soal apakah ia terlalu cepat diberi jabatan permanen akan semakin sulit dihindari.