Perubahan jadwal K-League kembali mencuat sebagai salah satu isu terpanas di sepak bola Korea Selatan. Sebuah survei yang dirilis pekan lalu menunjukkan lebih dari 70% dari 29 pelatih di liga profesional tertua di Asia itu setuju meninggalkan format Maret-November dan beralih ke pola Eropa yang dimulai akhir Agustus dengan jeda musim dingin. Dorongan ini muncul karena alasan yang sangat nyata: cuaca ekstrem, khususnya panas musim panas yang kian menyiksa, membuat jadwal lama semakin sulit dijalankan.
Korea Selatan memang dikenal dengan julukan Negeri Pagi yang Tenang, tetapi kondisi cuacanya justru sering berada di dua kutub ekstrem. Musim dingin sudah lama terlalu dingin untuk menggelar pertandingan, sementara musim panas belakangan terasa makin membakar. Perdebatan soal waktu ideal untuk menggelar kompetisi pun mencuat lagi, melibatkan pelatih, pemain, hingga otoritas meteorologi negara itu.
Mayoritas Pelatih K-League Ingin Format Baru
Survei terhadap 29 pelatih tersebut menjadi sinyal kuat bahwa perubahan mendapat dukungan luas di kalangan pelaku langsung kompetisi. Angka lebih dari 70% suara yang mendukung peralihan ke format Eropa menunjukkan bahwa masalah ini tidak lagi dipandang sebagai keluhan kecil, melainkan kebutuhan mendesak. Format yang diusulkan meniru liga-liga top Eropa: musim bergulir mulai akhir Agustus, berjalan melewati musim gugur dan dingin, lalu libur sejenak sebelum kembali melanjutkan kompetisi.
Tekanan untuk berubah datang dari pengalaman langsung di lapangan. Pada musim panas tahun ini, sejumlah penonton dilaporkan pingsan di stadion akibat sengatan suhu, sementara para pelatih mengeluhkan kualitas permainan yang menurun karena pemain kelelahan dan kehilangan fokus. Kondisi ini membuat pertandingan tidak lagi sekadar soal taktik, tetapi juga soal daya tahan tubuh menghadapi cuaca.
Data suhu memperkuat kekhawatiran itu. Kota Yangsan mencatat suhu 42,5 derajat Celsius pada 2 Agustus, angka tertinggi sejak pencatatan dimulai. Seoul pun mengalami 17 malam tropis berturut-turut, yaitu malam ketika suhu tidak turun di bawah 25 derajat Celsius. Bagi pemain yang harus berlari selama 90 menit, kombinasi suhu tinggi dan malam yang tetap gerah jelas menjadi beban berat.
Krisis Iklim dan Data Suhu yang Mengkhawatirkan
Persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari tren pemanasan global yang melanda Korea Selatan. Laporan Badan Meteorologi Korea (KMA) pada Desember 2025 menemukan bahwa suhu di negara itu naik 0,9 derajat Celsius sepanjang periode 2020 hingga 2024. Angka itu terbilang mengkhawatirkan karena kenaikan selama 100 tahun sebelumnya hanya 1,9 derajat Celsius, artinya laju pemanasan dalam lima tahun terakhir jauh lebih cepat dibanding catatan historis.
KMA juga mencatat bahwa musim panas kini berlangsung 25 hari lebih panjang, sementara musim dingin memendek 22 hari. Pergeseran ini mengubah peta kalender kompetisi secara fundamental. Jika tren berlanjut, jeda musim dingin mungkin tidak perlu selama yang dibayangkan sebelumnya, tetapi jeda di tengah musim panas justru berpotensi menjadi sangat panjang.
Asosiasi Pesepak Bola Profesional Korea Selatan pun angkat bicara menuntut perubahan. Mereka menegaskan bahwa K-League harus bertransisi untuk melindungi pemain dari krisis iklim yang memburuk dan panas musim panas yang menyiksa, sekaligus menjaga kepemimpinan liga di Asia dan daya saingnya di panggung global. Para pemain meyakini penyelarasan dengan musim Eropa tidak hanya menguntungkan dari sisi kesejahteraan mereka dan penonton, tetapi juga mempermudah proses transfer masuk dan keluar.
Jepang Sudah Duluan, dan Itu Berdampak pada Transfer
Langkah yang kini dipertimbangkan Korea sebenarnya sudah diambil Jepang. J League sebelumnya mengikuti jadwal yang sama dengan Korea hingga tahun ini, tetapi baru saja memulai musim baru dengan format yang selaras dengan Eropa. Keputusan itu menjadi semacam uji coba nyata yang bisa dipelajari para pemangku kepentingan K-League.
Alasan di balik langkah Jepang cukup jelas. Penggemar dan media di sana sejak lama mengeluhkan nilai transfer yang relatif kecil bagi pemain-pemain muda berbakat mereka yang terus bertambah jumlahnya. Dengan memiliki jendela transfer musim panas selama tiga bulan yang sama seperti Eropa, negosiasi dengan klub-klub Benua Biru diharapkan berjalan lebih mulus dan harga jual pemain bisa lebih tinggi.
Selain itu, perubahan ini membuat J League sejalan dengan Liga Champions Asia, yang lebih dulu melakukan transisi pada 2023. Keselarasan jadwal berarti klub tidak perlu lagi menghadapi benturan kalender antara kompetisi domestik dan turnamen antarklub Asia. Bagi Korea, mengikuti jejak ini berarti ikut menikmati keuntungan serupa, meski dengan tantangan geografis dan iklim yang berbeda.
Tantangan Musim Dingin dan Skema Transisi Bertahap
Masalah utama bagi Korea adalah musim dinginnya lebih keras dibanding Jepang, terutama bagi sebagian besar klub. Berendam dalam panas di stadion memang tidak menyenangkan, tetapi menonton pertandingan di suhu di bawah nol juga bukan pengalaman yang nyaman. Kompetisi K-League sendiri memainkan 38 pertandingan dalam satu musim, sehingga menyusun ulang kalender bukan pekerjaan sederhana.
Karena itu, perubahan tidak harus berlangsung secara drastis. J League pernah menerapkan musim transisi mini yang berdiri sendiri, berlangsung dari Februari hingga Mei sebelum Piala Dunia digelar. Skema semacam ini bisa menjadi contoh bagaimana sebuah liga berpindah format tanpa harus mengacak-acak seluruh kalender dalam satu langkah.
Turnamen pada 2030 disebut sebagai momen yang tepat bagi Korea untuk mengikuti pola serupa. Ajang besar itu memberi titik potong alami yang bisa dimanfaatkan untuk memulai siklus musim baru. Dengan begitu, transisi tidak perlu mengganggu kompetisi yang sedang berjalan, tetapi tetap membuka jalan menuju format yang lebih ramah iklim.
Situasi di China memberi gambaran tambahan. Negara itu memakai jadwal yang sama dengan Korea, dengan musim dingin keras di sejumlah wilayah dan musim panas yang menyengat di sebagian besar daerah lain. Namun dengan hanya 30 pertandingan di kompetisi utama dan wilayah yang sangat luas, mereka lebih leluasa mengatur jadwal, misalnya dengan menggelar laga pada periode terdingin di kawasan selatan.
IPL hingga Tour de France: Tren yang Lebih Luas
Pergeseran jadwal demi menghindari cuaca ekstrem bukan fenomena khas sepak bola Asia. Indian Premier League (IPL), kompetisi kriket paling menguntungkan di dunia, juga tengah menimbang perubahan jadwal Maret hingga Mei. Ketua IPL, Arun Dhumal, pada Juni menyebut cuaca sebagai tantangan baru dan menyatakan pihaknya mencari peluang menggelar pertandingan pada jendela Februari-April atau pada periode lain di akhir tahun.
Di Eropa, Tour de France harus menghadapi musim panas yang kacau akibat panas menyengat dan kebakaran hutan. Situasinya cukup parah hingga penonton diminta menjauh dari tahap-tahap akhir balapan demi keselamatan mereka sendiri. Direktur olahraga XDS Astana, Yvon Ledanois, menggambarkan kondisinya kepada RMC Sport sebagai sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya, karena panas ekstrem terjadi hampir setiap hari tanpa jeda.
Meski demikian, memindahkan Tour de France dari Juli setelah digelar selama 120 tahun tampaknya belum menjadi opsi dalam waktu dekat. Yang lebih mungkin terjadi adalah pengaturan ulang jam start tiap etape agar terhindar dari bagian hari yang paling panas. Pola ini menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam menyusun jadwal akan menjadi kunci, baik di Korea maupun di berbagai kompetisi lain di dunia.
Bagi K-League, banyak hal juga bergantung pada bagaimana J League menyejahterakan dirinya secara finansial. Kekhawatiran sempat muncul bahwa jeda tengah musim yang panjang akan menekan pendapatan hari pertandingan serta minat penonton dan penyiar. Namun pejabat di Tokyo menyatakan sebelum musim baru dimulai bahwa mereka memperkirakan pendapatan yang memecahkan rekor. Jika itu terbukti, argumen untuk berubah di kawasan lain akan semakin kuat, bukan hanya karena penonton yang kepanasan dan pemain yang bermandikan keringat.
Penutup
Perubahan jadwal K-League kini berada di persimpangan antara kebutuhan kompetisi dan kenyataan iklim yang makin keras. Dukungan lebih dari 70% pelatih, data suhu KMA yang mengkhawatirkan, serta langkah Jepang yang sudah lebih dulu beralih format menjadi tiga faktor yang saling menguatkan. Kompetisi berusia panjang ini pada akhirnya harus menyesuaikan diri agar tetap relevan dan aman bagi semua pihak yang terlibat.
Jika skema transisi bertahap benar-benar dijalankan, momen Piala Dunia 2030 bisa menjadi titik awal yang rapi. Yang jelas, fleksibilitas dalam merancang kalender bukan lagi sekadar pilihan gaya, melainkan keharusan di tengah cuaca yang semakin sulit diprediksi.
