Jason McCarthy memutuskan gantung sepatu dari sepak bola profesional pada usia 29 tahun dan langsung banting setir menjadi pelatih. Mantan bek yang pernah merasakan debut di Premier League itu kini dipercaya sebagai asisten pelatih tim Brighton & Hove Albion U21. Berhenti bermain saat usia masih terbilang muda memang jarang terjadi, tetapi McCarthy mengaku sudah lama merasa bahwa karier kepelatihan adalah jalan yang paling tepat untuknya.
Yang membuat kisahnya menarik, McCarthy menjalani transisi ini di klub yang ia sendiri sebut sebagai yang paling progresif di dunia. Brighton sedang tampil mengesankan di awal musim dan menempati posisi ketiga klasemen sebelum bertandang ke markas Sunderland. Di balik performa tim utama, ada pula struktur pelatih muda yang diberi ruang besar untuk berkembang, dan McCarthy adalah salah satu contohnya.
Pensiun di Usia 29 dan Langsung Masuk Ruang Pelatih
McCarthy menerima jabatan asisten pelatih Brighton U21 pada awal tahun lalu. Ia baru saja kembali ke posisi tersebut setelah menjalani tugas sebagai pelatih sementara selama sekitar dua bulan pada musim panas, ketika pelatih kepala U21, Shannon Ruth, ikut membantu staf tim utama yang diasuh Fabian Hürzeler. Peran ganda semacam ini memperlihatkan bahwa Brighton cukup lentur dalam mengatur sumber daya kepelatihannya.
Sesi latihan pertama McCarthy berlangsung ketika ia masih aktif bermain sebagai bek di Wycombe. Saat itu ia dipercaya menangani tim U16 di bawah yayasan klub, dan pengalaman tersebut terasa jauh dari mulus. Ia mengaku begitu gugup hingga akhirnya sadar bahwa melatih adalah keterampilan yang harus dilatih, bukan bakat yang muncul begitu saja.
Dari situ ia belajar satu hal penting: jika suatu hari ingin memimpin pemain dewasa, ia harus berlatih lebih dulu, sesering mungkin, dan tidak bisa sekadar mengandalkan pengalaman sebagai pemain. Kesadaran itulah yang kemudian mendorongnya mengambil langkah serius untuk menekuni profesi pelatih, jauh sebelum ia benar-benar menggantung sepatu.
Dari Lisensi B UEFA hingga Kursus Analitik Data
Titik balik terjadi saat McCarthy berusia 26 tahun. Ia mengaku punya seorang teman bernama Tobi Sho-Silva, mantan pemain muda Charlton yang kini berkarier di Hampton & Richmond Borough, yang mendorongnya mulai mengambil lisensi kepelatihan. Sebelum percakapan itu, McCarthy bahkan sempat berpikir menekuni jalur lain karena latar belakang imannya, dan membayangkan dirinya menjadi pendeta atau mengabdi di lingkungan gereja.
Namun begitu menjalani lisensi B UEFA, keyakinannya berubah hanya dalam sekitar sepekan. Ia merasa jauh lebih cocok menjadi pelatih dibandingkan menjadi pemain, dan sejak titik itu prosesnya berkembang cepat. McCarthy mulai menuliskan pemikirannya di atas kertas serta mempelajari cara kerja rekan-rekan seprofesinya.
Ia melengkapi diri dengan diploma psikologi dan sebuah kursus analitik data. Ia juga rajin mengamati pertandingan, baik secara langsung maupun jarak jauh, dan kerap menghentikan tayangan laga untuk mencatat hal-hal menarik. Dari pengamatannya, ia menyoroti gaya Barcelona di bawah Hansi Flick, pekerjaan Michael Carrick di Middlesbrough, serta pendekatan Jim McNulty di Rochdale. Menurutnya ada benang merah di antara mereka, yakni penguasaan bola, meski cara mewujudkannya berbeda-beda.
McCarthy mengaku selalu ingin bermain di tim yang memainkan sepak bola bagus, tetapi merasa kemampuannya tidak pernah cukup untuk itu. Ia juga menyoroti pengalaman bermain di bawah pelatih yang menginginkan gaya tertentu, namun selama sepekan latihan tidak menyiapkan apa pun yang mengarah ke gaya tersebut, lalu tetap berharap gaya itu muncul di pertandingan.
Keputusan berhenti total juga tidak diambil secara instan. Sekitar usia 27 tahun, McCarthy berbicara serius dengan istri serta kedua orang tuanya. Ia merasa bersalah karena banyak orang ingin berada di posisinya, dan sempat bertanya apakah lebih baik menunda karier kepelatihan lalu kembali lagi nanti. Sejumlah rekan setim dan pelatih menyarankannya santai karena karier bermain masih panjang, tetapi ia justru yakin bahwa berhenti adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah ia buat.
Jason McCarthy Belajar dari Pochettino dan Koeman
Sepanjang karier bermainnya, McCarthy mencatat 301 penampilan untuk klub-klub di empat divisi teratas Inggris. Salah satu penampilan itu terjadi di Premier League, ketika Ronald Koeman memberinya debut bersama Southampton sebagai pemain pengganti pada menit ke-87 di markas Crystal Palace, pada laga Boxing Day 2014. Ia mengenang momen tersebut sebagai pergantian dari rompi latihan ke jersey tercepat yang pernah ada, dan ia bermain di sisi kanan bersama Sadio Mané.
McCarthy menilai Koeman sebagai pelatih yang jauh lebih dingin dibandingkan Mauricio Pochettino, tetapi tetap sangat berkualitas. Ia bahkan merasa dibuat tampak payah saat sesi latihan. Koeman senang ikut bergabung dalam permainan, dan meski usianya sudah 50-an, ia nyaris tidak pernah kehilangan bola, sementara McCarthy mengaku kesulitan mengontrol bola dengan baik. Meski begitu, sejak usia muda ia memang sudah penasaran dengan berbagai gaya kepelatihan dan manajemen.
Kisah paling berkesan datang dari masa-masa awal di Southampton. Saat berusia 17 tahun dan sedang membersihkan sepatu José Fonte, ia merasakan ada tangan menyentuh pundaknya. Ternyata itu Pochettino. Sang pelatih mengatakan bahwa ia menonton pertandingan McCarthy bersama tim U21, menyebut hal-hal yang sudah dilakukan dengan baik dan yang bisa diperbaiki, lalu mengundangnya berlatih bersama tim utama pekan berikutnya.
Pada Senin berikutnya, McCarthy benar-benar ikut sesi latihan dan bermain sebagai bek kanan dalam permainan 11 lawan 11, dengan sang manajer berdiri tepat di belakangnya. Meski Southampton baru saja menjalani laga besar di Premier League, Pochettino tetap membimbingnya secara detail tentang hal-hal yang ia inginkan. McCarthy mengaku merasa dikenal luar biasa oleh sang pelatih, padahal statusnya masih seorang pemain akademi.
Brighton, Hürzeler, dan Wawancara Pertama
Sebelum bergabung dengan Brighton, McCarthy sudah lama terkesan dari kejauhan dengan cara klub itu bekerja. Ia menilai Brighton tidak sekadar mengandalkan pendekatan yang sudah terbukti dan teruji, melainkan bersedia mendengarkan pemain berusia 29 tahun yang berpotensi pensiun. Dalam pandangannya, Brighton adalah klub paling progresif di dunia karena cara berpikirnya yang berbeda dari kebanyakan klub lain.
Di klub itulah ia menjalani wawancara kerja pertamanya dalam hidup. Proses tersebut melibatkan Fabian Hürzeler, pelatih kepala Brighton yang kini berusia 33 tahun dan pernah menjadi manajer permanen termuda dalam sejarah Premier League saat baru berumur 31 tahun. Hürzeler mengajukan banyak pertanyaan, mulai dari cara McCarthy melihat permainan, tim mana yang biasa ia tonton, hingga kapan ia menyadari ingin menjadi pelatih.
Karena Hürzeler sendiri pensiun pada usia 23 tahun, ia sangat memahami perasaan McCarthy. Ia menyebut keputusan itu menakutkan dan membuat ragu, mengingatkan bahwa banyak orang akan menyarankan untuk terus bermain, tetapi McCarthy diminta mempercayai perasaannya sendiri. Atas sikap itulah McCarthy mengaku sangat mengagumi Hürzeler.
Ada satu momen yang menurutnya menggambarkan pola pikir berkembang Hürzeler. McCarthy pernah melihatnya berlari mengelilingi area latihan sambil memegang selembar kertas dan membacanya. Hürzeler tampaknya membaca bahwa menyerap informasi sambil berolahraga dapat membantu mengingatnya, dan ia terus berusaha memperbaiki diri. Bagi McCarthy, hal seperti itu sulit untuk tidak menginspirasi.
Ada pula kebetulan menarik dalam perjalanan kariernya. Salah satu penampilan terakhir McCarthy terjadi melawan tim Brighton U21 di ajang EFL Trophy, melawan para pemain yang kini ia latih. Laga terakhirnya berlangsung di kompetisi yang sama pada Desember 2024, dan saat itu ia sudah lama merasa memberi dampak lebih besar sebagai pelatih ketimbang sebagai pemain.
Apa Arti Langkah Ini bagi Brighton dan Dunia Kepelatihan
Keputusan Brighton memberi ruang kepada pelatih muda seperti McCarthy menunjukkan bahwa klub bersedia mengambil risiko yang terukur. Alih-alih merekrut nama yang sudah mapan, mereka memberi kesempatan kepada sosok yang baru saja pensiun dan masih menimba ilmu. Pendekatan ini sejalan dengan reputasi Brighton sebagai klub yang rajin mengembangkan bakat, baik di level pemain maupun staf.
Bagi McCarthy sendiri, kesempatan tersebut membuka jalan untuk menguji kemampuannya di level elite. Tim U21 Brighton yang ia tangani meraih gelar Premier League 2 untuk pertama kali pada musim lalu, dan pada bulan lalu berhasil mengalahkan Paris Saint-Germain. Ia mengaku sangat bangga menjadi bagian dari tim yang menciptakan sejarah bagi akademi klub.
Ia meyakini kemenangan dan pengembangan pemain berjalan beriringan. Karena itu, menumbuhkan mental juara dalam kelompok menjadi pencapaian yang membanggakan bagi seluruh staf. Ia berharap capaian tersebut baru permulaan, dan memimpin tim secara langsung disebutnya semakin menyalakan semangat untuk terus maju dalam karier kepelatihan.
Ambisi, Iman, dan Langkah Selanjutnya
McCarthy yang bulan depan genap berusia 31 tahun tidak berencana berhenti di sini. Ia berencana mengajukan lisensi pelatih profesional pada tahun depan. Tujuannya jelas, yakni menantang diri sendiri di level elite. Ia merasa beruntung sudah berada di klub elite sehingga bisa menyaksikan langsung standar, perilaku, karakter pemain, dan staf setiap hari.
Ia sering merenungkan pencapaiannya sebagai pemain dan bertanya pada diri sendiri apakah ia bisa menjadi lebih baik lagi sebagai pelatih. Selama berkarier, ia tiga kali bermain di Wembley, termasuk saat keluar sebagai kapten dengan anak-anaknya di sana. Meski bangga, ia bertekad mengambil langkah lebih jauh dari pinggir lapangan.
Iman tetap menjadi pijakan hidupnya. Ia menyebut iman sebagai bagian dari identitasnya, berdoa sebelum pertandingan, dan membaca Alkitab setiap hari. Ia menegaskan tidak akan berada di posisinya sekarang tanpa Tuhan, dan iman menjadi alasan besar mengapa ia begitu bersemangat menyongsong masa depan. Mengingat wawancara pertamanya saja sudah mempertemukannya dengan Hürzeler, ia sendiri merasa hal itu nyaris mustahil terjadi.
Kisah Jason McCarthy menunjukkan bahwa pensiun dini bukan berarti berhenti berkontribusi di dunia sepak bola. Dari sesi pertamanya yang penuh kegugupan di Wycombe hingga kursi asisten pelatih Brighton U21, ia membangun karier baru dengan bekal lisensi kepelatihan, studi psikologi, analitik data, dan kebiasaan mengamati pertandingan secara rinci. Keputusan yang sempat diragukan banyak orang itu justru membawanya ke lingkungan yang ia nilai paling progresif di dunia.
Dengan gelar Premier League 2, kemenangan atas Paris Saint-Germain, serta rencana mengambil lisensi pelatih profesional tahun depan, langkah McCarthy ke depan layak diikuti. Brighton pun diuntungkan oleh pelatih muda yang lapar ilmu dan berani mengambil risiko karier, sementara McCarthy mendapat panggung untuk membuktikan bahwa dirinya bisa tampil lebih baik sebagai pelatih daripada saat masih menjadi pemain.
