Kisah David Stockdale Selamatkan FC Farsley dari Likuidasi

David Stockdale, mantan kiper Premier League yang pernah membela Birmingham, Brighton, dan Fulham, kini menjalani peran yang jauh berbeda: penyelamat sekaligus pemilik dan manajer tim utama FC Farsley. Klub yang berbasis di Leeds barat itu baru saja memainkan laga pria pertamanya di kandang Throstle Nest setelah lebih dari dua tahun absen, dan sambutannya jauh melampaui perkiraan siapa pun. Di kantor klub, para staf sempat menggelar taruhan kecil soal berapa banyak penonton yang akan datang; Stockdale, dengan hati-hati, menebak 140 orang.

Nyatanya 480 orang masuk melalui gerbang untuk menyaksikan FC Farsley menghadapi Collegians FC di ajang Yorkshire Amateur League. Bagi Stockdale, angka itu menjadi bukti nyata bahwa upayanya mengembalikan klub ke kaki sendiri bukan sekadar angan-angan. Meski demikian, ia sadar masih ada pekerjaan raksasa yang menanti — sebelum wawancara berlangsung pun ia sedang mengoperasikan alat berat di lokasi.

Dari Kiper Premier League ke Kursi Manajer Farsley Celtic

Stockdale mengakui bahwa situasinya sekarang tergolong tidak lazim. Ketika menerima tawaran menjadi manajer Farsley Celtic 19 bulan lalu, ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan berakhir menjadi orang yang menjalankan sebuah klub. Saat itu, Farsley Celtic yang berkompetisi di National League North menanggung utang sekitar £750.000 dan berada di ambang pembubaran.

“Ketika saya datang untuk membantu, saya tidak tahu apa yang sudah terjadi,” ujar Stockdale. Ia mengaku langsung meminta pihak klub menceritakan semuanya, karena banyak orang yang belum dibayar dan kondisi tempat itu terbengkalai. Ia bahkan tidak tahu bagaimana klub bisa menyelesaikan musim 2024-25, di tengah pemain yang tidak menerima gaji.

Bagi Stockdale, pekerjaan itu lebih banyak soal mengelola manusia dan memastikan musim bisa dilalui sampai selesai. Ia menyebut klub hanya mungkin mendapat sekitar £5.000 per pertandingan, sementara tim menjalani laga di Buxton — kesepakatan yang dibuat oleh pemilik sebelumnya. Artinya, pengeluaran jauh lebih besar daripada pemasukan yang masuk.

Kronologi Kejatuhan: Dari Liga Enam hingga Likuidasi

Jalan panjang menuju kehancuran finansial itu berlangsung bertahap. Pada musim 2024-25, Farsley Celtic lebih banyak bermain di Buxton, dan mereka melewatkan kampanye 2025-26 setelah masuk proses likuidasi. Ketika musim panas 2025 tiba, Stockdale mulai menyuntikkan uangnya sendiri untuk menahan klub agar tidak tenggelam.

Hasilnya tetap pahit. Farsley Celtic sempat terdegradasi dari kasta keenam ke kasta kesembilan, lalu turun lagi ke kasta kesebelas, sebelum akhirnya menarik diri dari kompetisi pada Juni. Enam bulan kemudian Stockdale terpaksa melikuidasi klub tersebut dan mendirikan entitas baru bernama FC Farsley.

Situasi keuangannya sangat genting karena bank hendak menyita aset klub. Stockdale mengaku berdiskusi dengan pihak bank, para pemangku kepentingan, dan penasihat keuangannya untuk melihat apakah penyelamatan masih mungkin dilakukan. Istrinya bahkan menjadi orang terakhir yang ia mintai pertimbangan. Menurutnya, ironis bahwa mereka membeli klub pada Mad Friday, Jumat terakhir sebelum malam Natal, yang menurut dia menggambarkan situasinya dengan tepat.

“Kami berjalan dari kondisi yang benar-benar buruk, ke stres buruk, ke stres, dan sekarang stres yang baik karena semuanya mulai berputar,” katanya.

Keluarga Stockdale dan Fasilitas Olahraga yang Hidup Kembali

Peran Stockdale dan keluarganya tidak berhenti di sisi sepak bola. Mereka ikut membangkitkan fasilitas olahraga lokal agar kembali menjadi jantung komunitas di kawasan tersebut. Aula olahraga klub sebelumnya tidak bisa dioperasikan karena tagihan listrik menumpuk selama berbulan-bulan; kini komunitas bulu tangkis, netball, dan futsal mulai kembali bermain di sana.

Ada pula kafe yang perabotannya berasal dari Ikea serta area soft play yang dibeli dan dipasang sendiri oleh Stockdale. Istri Stockdale, Katie, menjalankan kafe tersebut, sementara putrinya, Molly dan Daisy, membantu kegiatan untuk anak-anak. Putranya, Billy, dipercaya sebagai kit man, dan ayah Stockdale — yang juga bernama David dan berprofesi sebagai tukang cat serta dekorasi — terlibat dalam renovasi.

Stockdale sendiri merupakan seorang tukang listrik bersertifikat, keterampilan yang sangat berguna dalam proyek sebesar ini. Ia menyebut pekerjaannya belakangan ini benar-benar tanpa henti, tetapi mengaku diam-diam menikmatinya. Ia tumbuh besar dengan kebiasaan mengerjakan segala sesuatu sendiri, mulai dari urusan DIY hingga prinsip menolong diri sendiri sebelum berharap orang lain menolong. Menurutnya, ketika orang melihat seseorang mau turun tangan, mereka jadi lebih terdorong untuk ikut membantu.

Target Besar: Lapangan 3G Senilai £1,5 Juta

Sasaran berikutnya jauh lebih besar: menghabiskan £1,5 juta untuk membangun lapangan buatan berteknologi modern. Sulit membayangkan target itu saat melihat lapangan utama yang kini ditumbuhi rumput liar dan rusak, karena terbengkalai sejak April 2024. Untuk sementara, tim baru FC Farsley bermain di lapangan rumput di sebelahnya.

Stockdale yakin lapangan anyar itu akan mengubah banyak hal. Ia ingin tempat ini menjadi fasilitas olahraga kelas premium, lengkap dengan jaring kriket di aula olahraga, lantai baru, serta kemampuan menjadi tuan rumah final netball dan bulu tangkis. Ia juga membayangkan lapangan 3G di lapangan utama, lapangan rumput yang berkualitas, lapangan-lapangan untuk junior, dapur, dan beer garden.

Ia menegaskan tidak menutup mata soal besarnya biaya sepak bola, dan itulah alasan mengapa di tempat ini ada dua entitas berbeda: fasilitas olahraga dan sisi sepak bolanya. Salah satu ambisinya adalah menjadi lokasi latihan bagi klub-klub yang akan menghadapi Leeds United, sehingga tempat ini bisa dikunjungi banyak orang dan dibanggakan. Secara historis, fasilitas di sana memang tidak pernah istimewa dan cenderung terbengkalai, dengan sangat sedikit uang yang dibelanjakan selama tujuh tahun terakhir.

Dukungan Adebayo Akinfenwa dan Visi Jangka Panjang

Keluarga Stockdale mendapat dukungan dari sahabat dekat mereka, Adebayo Akinfenwa, yang pernah bermain bersama Stockdale di Wycombe dan kini bergabung sebagai pemegang saham. Stockdale bercanda bahwa Akinfenwa berperan sebagai “hype man” bagi klub, dan menegaskan bahwa keterlibatan itu bukan didasari perhitungan investasi atau langkah bisnis semata.

Menurut Stockdale, semuanya lebih karena persahabatan yang tumbuh bertahun-tahun dan berjalan secara organik. Setelah relaunch yang berhasil, ia tidak ingin berpuas diri dan berharap bisa merangkul lebih banyak penggemar lokal serta sponsor. Sekadar menoleh ke sekeliling lokasi sudah cukup untuk mengingatkannya bahwa masih banyak yang harus dikerjakan, termasuk kembali menaiki alat berat setelah wawancara selesai.

Ia mengaku senang bisa duduk menikmati segelas Guinness seusai pertandingan dan merasakan bahwa segalanya kini bergerak maju. Namun di kepalanya sudah tersimpan visi lima hingga sepuluh tahun, sementara ia baru menjalani sepuluh bulan pertama. Ia menerima kemungkinan visi itu tak sepenuhnya terwujud, tetapi menegaskan tidak akan melepaskan proyek ini karena wilayah Leeds barat adalah kampung halamannya, tempat ia tumbuh besar.

Kisah David Stockdale bersama FC Farsley menunjukkan bagaimana sebuah klub bisa bangkit dari titik terendah, dari utang ratusan ribu pound, degradasi beruntun, hingga likuidasi, menjadi komunitas yang kembali hidup. Kehadiran 480 penonton di laga pertama di Throstle Nest menjadi sinyal bahwa publik setempat masih peduli, meski perjalanan pemulihannya baru dimulai.

Yang tersisa sekarang adalah pekerjaan panjang: menambal fasilitas yang lama terbengkalai, mengumpulkan dana untuk lapangan 3G, dan membangun kembali kepercayaan. Dengan dukungan keluarga, sahabat, serta visi jangka panjangnya, Stockdale tampaknya tidak berniat berhenti di tengah jalan.