Pierre Sage Angkat Lens, Penggantinya Cuma Bertahan 6 Laga

Bayang-bayang Pierre Sage masih membayangi RC Lens hingga kini. Setelah pria itu membawa klub ke titik tertinggi dalam sejarah modern mereka, penggantinya, Dino Toppmöller, justru hanya bertahan enam pertandingan sebelum meninggalkan klub lewat kesepakatan bersama pekan lalu. Kekosongan di kursi pelatih pun untuk sementara diisi Yannick Cahuzac, yang mendampingi tim dari bangku cadangan saat menghadapi Monaco di Stade Louis II, Jumat malam.

Pierre Sage meninggalkan Lens untuk bergabung dengan Crystal Palace setelah mempersembahkan trofi Coupe de France pertama bagi klub dan mengantar tim finis di peringkat kedua Ligue 1 musim lalu. Pergantian itu semestinya menjadi awal babak baru, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: Toppmöller tercatat sebagai manajer dengan masa jabatan terpendek Lens sejak Perang Dunia II. Kisah kepergiannya dinilai lebih banyak menceritakan persoalan internal klub ketimbang kualitas pria Jerman tersebut.

Kronologi Kursi Pelatih yang Kembali Bergejolak

Kedatangan Cahuzac ke kursi pelatih berlangsung nyaris tanpa sorotan. Ia mengambil posisi di bangku cadangan Lens di Stade Louis II setelah lampu stadion diredupkan untuk menyambut masuknya para pemain, duduk sendirian sambil mencondongkan badan ke depan pada kursi yang seharusnya ditempati Toppmöller andai tidak terjadi kejadian dramatis pekan sebelumnya. Ia ditunjuk sebagai pelatih interim hanya tiga hari sebelum laga itu digelar, dan pengumuman itu sendiri disampaikan tanpa gegap gempita.

Penunjukan tersebut seolah merupakan sesuatu yang sudah lama dipersiapkan. Cahuzac meninggalkan Lorient, tempat ia menjadi asisten Olivier Pantaloni, pada akhir musim lalu untuk kembali ke Lens, klub tempat ia menutup karier bermainnya sebelum bekerja sebagai asisten Franck Haise pada musim 2022-23. Meski namanya sempat disebut-sebut sebagai calon pelatih utama masa depan, peran yang ia ambil pada musim panas bukanlah peran itu.

Statusnya masih sebagai pelatih magang karena ia belum mengantongi kualifikasi kepelatihan yang disyaratkan, sehingga ia kembali ke klub sebagai asisten Toppmöller. Kondisi tersebut membuat penunjukannya sebagai pengganti sementara terasa masuk akal, sekaligus memunculkan pertanyaan soal siapa yang sebenarnya layak menempati kursi utama dalam jangka panjang.

Warisan Pierre Sage dan Beban Ekspektasi di Lens

Warisan yang ditinggalkan Pierre Sage membuat ekspektasi terhadap Lens melonjak, meski klub sendiri berusaha menurunkan standar. Direktur olahraga Jean-Louis Leca menyatakan pada musim panas bahwa Lens “bukan klub Liga Champions” dan bahwa finis di peringkat kedelapan Ligue 1 sudah bisa disebut sebagai sebuah kesuksesan. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa lompatan besar pada musim sebelumnya tidak otomatis berlanjut ke musim berikutnya.

Kendati demikian, awal kiprah Toppmöller justru berjalan mulus. Laga pertamanya menghadirkan trofi setelah Lens mengalahkan PSG di Trophée des Champions, debutnya di Ligue 1 berakhir dengan kemenangan 5-2 atas Auxerre, dan timnya membawa pulang tiga poin dari kandang Slavia Prague pada laga pertama Liga Champions. Semua itu terjadi setelah musim panas yang penuh gejolak dan kepergian sejumlah pemain penting.

Hasil memang cenderung menurun dalam beberapa pekan terakhir, tetapi target yang dipasang klub masih terpenuhi. Karena itulah pengumuman kepergiannya pekan lalu terasa begitu mengejutkan, terlebih karena keputusan tersebut diambil ketika kompetisi baru berjalan enam pertandingan.

Retaknya Staf: Dua Kubu di Dalam Tubuh Lens

Penjelasan mengenai perpisahan itu mengungkap perpecahan yang tidak sepenuhnya terjadi antara Toppmöller dan skuadnya, melainkan di dalam staf itu sendiri. CEO klub, Benjamin Parrot, mengungkapkan bahwa bahkan sebelum Trophée des Champions digelar, sudah terasa adanya dua kelompok di dalam staf, yakni kelompok Prancis dan kelompok yang lebih internasional. Situasi itulah yang menjadi pemicu ketegangan hingga berujung pada kepergian sang pelatih.

Toppmöller datang dengan membawa dua asisten. Lens berupaya memecat salah satunya, Nelson Morgado, tetapi Toppmöller menolak menerima pemecatan tersebut dan tetap membela asistennya. Ia memilih pergi, dan Cahuzac pun naik menggantikannya.

Dari rantai peristiwa ini terlihat bahwa persoalan Lens bukan sekadar soal hasil pertandingan. Konflik internal yang dibiarkan terbuka membuat posisi seorang pelatih baru rapuh sejak hari pertama, sekalipun ia punya modal hasil yang cukup baik di lapangan.

Cahuzac: Antara Isu Nepotisme dan Kapasitas yang Teruji

Nama Cahuzac sudah disebut-sebut sebagai penerus Toppmöller bahkan sebelum ia benar-benar menetap di klub. Situasi semacam itu jelas tidak sehat bagi pelatih baru mana pun, karena ia harus bekerja di bawah bayang-bayang sosok yang sejak awal disiapkan menggantikannya. Karena Leca adalah sahabat dekat sekaligus mantan rekan setim Cahuzac di Bastia, muncul anggapan bahwa penunjukan ini tidak lepas dari kedekatan pribadi.

Leca sendiri menyadari bagaimana hal itu terlihat dari luar. “Ya, dia sahabat saya, tetapi di dalam dinding-dinding klub ini dia bukan sahabat saya. Di dalam klub ini, saya adalah atasannya,” ujarnya.

Menilai penunjukan Cahuzac semata-mata sebagai praktik nepotisme jelas tidak adil. Lorient merupakan salah satu tim paling menarik secara taktik di Ligue 1 musim lalu; meski Pantaloni yang mendapat nominasi pelatih terbaik musim itu menuai sebagian besar pujian, Cahuzac memainkan peran penting di baliknya. Ia juga mengenal betul budaya dan struktur Lens, karena pernah bermain tiga musim di sana dan pernah bekerja sebagai asisten Haise.

Debut Melawan Monaco: Kalah, tapi Ada Tanda Positif

Laga pertamanya melawan Monaco tidak dimulai dengan baik. Tuan rumah memimpin 1-0 pada babak pertama, meski mereka sempat tiga kali memasukkan bola ke gawang Lens dan selalu dianulir oleh hakim garis. Cahuzac mengubah taktik saat jeda, dan perubahan itu berdampak nyata: Matthieu Udol menyundul bola menjadi gol penyeimbang yang pantas didapatkan Lens.

Franjo Ivanovic dan Thorgan Hazard mendapat peluang saat Lens mengejar gol kemenangan. Pada akhirnya, gol penentu memang lahir dari pemain Lens, tetapi malang bagi Jonathan Gradit karena bola justru berakhir di gawangnya sendiri.

Dengan demikian, kiprah Cahuzac dibuka dengan kekalahan tipis 2-1 yang penuh perlawanan. Pria 41 tahun itu dikenal sebagai pemain bertipe agresif di lapangan, tetapi di bangku cadangan ia nyaris tanpa gerak—berdiri seperti patung dengan tangan menopang dagu dalam pose berpikir yang memancarkan ketenangan. Setelah pekan yang penuh gejolak, Lens memang sedang membutuhkan suasana yang tenang.

Peta Ligue 1: Rosenior, Le Classique, dan Lyon

Di tempat lain, Ligue 1 menyajikan sejumlah cerita yang tak kalah panas. Liam Rosenior menghadapi Strasbourg untuk pertama kalinya sejak ia bergegas meninggalkan klub itu pada Januari untuk bergabung dengan klub saudara, Chelsea, dan pertemuan tersebut berlangsung tanpa kehangatan. Rosenior membawa Paris FC menang 2-1 dan melanjutkan rekor tak terkalahkan sejak kembali ke Ligue 1 pada musim panas ini.

Selepas laga, ia merayakan kemenangan di depan suporter Strasbourg yang datang—sebuah respons, kata Rosenior, terhadap nyanyian yang menghina keluarganya dari tribun tamu. Bentrokan tidak sedap antarpemain dan staf kedua tim pun terjadi. Rosenior menilai nyanyian itu sudah “terlalu jauh” dan menegaskan bahwa “merayakan seperti itu jelas merupakan sebuah pesan”. Para pemainnya juga mengirim pesan lewat permainan, yakni bahwa mereka ikut bersaing untuk tiket kualifikasi Liga Champions.

Sementara itu, PSG mengalahkan Marseille 2-1 dalam Le Classique yang seperti merangkum perjalanan kedua klub musim ini; keduanya masih belum stabil. Bagi PSG, poin setidaknya mulai mengalir, dan Ferran Torres kembali membuktikan diri sebagai rekrutan yang tepat setelah masuk dari bangku cadangan dan mencetak gol pembuka. Marquinhos menebus gol bunuh dirinya pada pertemuan musim lalu, yang menjadi penentu kemenangan pertama Marseille atas PSG di Vélodrome dalam 14 tahun di ajang Ligue 1—kenangan yang kini terasa sudah lama berlalu.

Masalah Marseille justru semakin dalam. Ada momen cerah, terutama lewat gol penyeimbang Angel Gomes, tetapi tim asuhan Bruno Génésio kini telah menelan empat kekalahan dari lima laga pertama di liga. Suporter tuan rumah bahkan membentangkan spanduk bertuliskan “Proyek Ligue 2?”, dan Marseille masuk masa jeda internasional dengan posisi di zona degradasi.

Di Lyon, pertandingan sempat dihentikan sementara setelah suporter tuan rumah membentangkan spanduk yang menghina rival berat mereka, Saint-Étienne. Lyon tetap memberikan pernyataan lewat kemenangan 4-0 atas Rennes setelah melakukan rotasi saat menang di Liga Europa melawan Anderlecht—sinyal yang jelas, meski mengecewakan, soal prioritas mereka. Rennes menurunkan kekuatan lebih besar ketika menghadapi Sturm Graz tetapi gagal meraih tiga poin, sehingga penyerang mereka, Esteban Lepaul, tidak dimainkan sejak awal melawan Lyon. Lyon dengan kekuatan penuh menaklukkan tim asuhan Franck Haise tanpa kesulitan, sementara Rennes tampaknya bakal sulit menyeimbangkan agenda Eropa dan liga. Sama sekali tidak ada perlawanan berarti dari Rennes; ancaman terbesar dalam laga itu justru datang dari suporter Lyon sendiri.

Berikut klasemen sementara Ligue 1 setelah lima pertandingan berjalan:

PosTimPSGPoin
1Monaco5513
2Lyon5811
3Paris FC5511
4Lille5410
5Rennes5-110
6PSG518
7Angers517
8Strasbourg507
9Le Mans506
10Auxerre5-56
11Brest5-15
12Lorient5-15
13Toulouse5-25
14Nice5-35
15Lens504
16Troyes5-74
17Marseille5-13
18Le Havre5-32

Kisah yang terjadi di Lens menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pelatih tidak selalu cukup untuk mempertahankannya di kursi jabatan. Setelah Pierre Sage mengangkat klub ke pencapaian yang belum pernah mereka raih, penggantinya justru tumbang hanya dalam enam pertandingan karena persoalan internal yang jauh lebih rumit daripada sekadar hasil di lapangan. Kini Cahuzac memikul tugas berat: merapikan staf, menenangkan suasana, dan menjaga Lens tetap bersaing di tengah kompetisi yang semakin sulit diprediksi.

Liga memang sedang menampilkan wajah penuh gejolak, mulai dari perpecahan internal di ruang staf, ketegangan antarsuporter, hingga klub besar yang terpuruk di zona degradasi. Bagi Lens, satu-satunya jalan keluar adalah memulihkan stabilitas secepat mungkin—sebelum kursi pelatih kembali berganti.