The Friedkin Group (TFG) membuka peluang Everton dijual kurang dari dua tahun setelah mereka mengambil alih klub dari Farhad Moshiri. Perusahaan yang bermarkas di Houston itu menyatakan secara resmi pada Jumat bahwa mereka sedang mencari opsi investasi baru untuk Everton, termasuk kemungkinan melepaskan saham pengendali. Meski belum ada tenggat waktu yang dipatok, TFG yakin bisa menemukan pembeli dengan cepat dan bahkan menuntaskan transaksi pada musim ini.
Pengumuman ini muncul hanya beberapa pekan setelah berakhirnya jendela transfer musim panas yang berjalan kacau, sehingga memicu pertanyaan soal seberapa serius komitmen TFG terhadap klub Liga Premier tersebut. Keputusan melepas Everton disebut berkaitan dengan besarnya dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan ambisi klub sekaligus terbentur aturan kepemilikan multi-klub. TFG sendiri masih memiliki aset besar lain, yaitu AS Roma dan Cannes, serta tengah bersiap meluncurkan waralaba NHL di Houston yang nilainya sekitar 3,5 miliar dolar AS atau setara 2,6 miliar poundsterling.
The Friedkin Group Buka Opsi Everton Dijual
Dalam pernyataan resminya, TFG menyebut sedang menjajaki berbagai bentuk investasi baru bagi Everton Football Club, termasuk potensi penjualan kepemilikan saham mayoritas. Bank investasi Moelis & Company ditunjuk untuk menangani seluruh proses penjualan jika memang berlanjut. Pihak TFG tidak memasang batas waktu apa pun, namun mereka percaya diri mampu menarik minat pembeli dalam waktu singkat.
Perusahaan itu juga menegaskan bahwa mereka hanya akan menanggapi minat dari pihak yang benar-benar diyakini mampu menjadi pengelola berikutnya yang tepat bagi Everton. Menurut pernyataan tersebut, TFG ingin memastikan calon pembeli bisa melanjutkan momentum yang sudah terbangun di klub. Selama proses berjalan, mereka berjanji tetap mendukung klub di semua lini agar bisa meraih kesuksesan di lapangan dan terus memberi dampak positif bagi komunitas di sekitar Everton.
Pernyataan itu juga menyinggung kondisi klub saat TFG pertama kali masuk. Menurut mereka, Everton ketika itu menghadapi ketidakpastian finansial yang serius, baik di dalam maupun di luar lapangan. Prioritas utama saat itu adalah menghadirkan stabilitas, investasi, dan dukungan agar masa depan klub aman, termasuk membantu merampungkan stadion yang sudah lama dinanti para pendukung. Dengan fondasi yang kini dinilai sudah kokoh, TFG merasa waktu yang tepat untuk memikirkan babak berikutnya bagi Everton.
Latar Belakang: Jendela Transfer yang Berakhir Kacau
Isu soal masa depan Everton sebenarnya sudah mencuat sebelum pengumuman resmi keluar. Komitmen finansial dan personal TFG terhadap klub mulai dipertanyakan dalam beberapa bulan terakhir, terutama karena strategi transfer mereka berubah di tengah jendela musim panas. Kebijakan yang awalnya agresif bergeser menjadi pola jual-beli, di mana klub harus menjual pemain lebih dulu sebelum mendatangkan pemain baru.
Indikasi pertama dari pergeseran itu adalah kesediaan pemilik klub menerima tawaran 40 juta poundsterling dari Nottingham Forest untuk Harrison Armstrong. Rencana penjualan Armstrong akhirnya dibatalkan setelah muncul gelombang protes dari para pendukung Everton. Namun, aset paling kreatif klub, Iliman Ndiaye, tetap dilepas ke Manchester City dengan nilai 65 juta poundsterling.
Di sisi lain, manajer David Moyes, yang masa depannya di Everton juga belum jelas, mengaku belum pernah berbicara langsung dengan Dan Friedkin, pendiri TFG sekaligus ketua klub, sejak kembali menangani tim pada Januari 2025. Skuad Moyes pun dianggap kurang jumlah pemain dan tanpa penyerang tengah pada hari terakhir bursa transfer. Situasi itu terjadi setelah Beto dijual ke Fiorentina dan rencana kepindahan Folarin Balogun dari Monaco senilai 40 juta poundsterling gagal terwujud.
Everton sebenarnya sudah menyusun rencana untuk menambal kekurangan tersebut pada jendela transfer Januari. Akan tetapi, rencana itu berpotensi terganggu bila proses pengambilalihan klub benar-benar berjalan dan mengubah prioritas belanja maupun arah kebijakan olahraga klub.
Terganjal Aturan Kepemilikan Multi-Klub dan Ambisi TFG
Salah satu alasan di balik niat melepas Everton adalah aturan kepemilikan multi-klub yang diterapkan UEFA. TFG semula yakin bisa mencari celah agar Everton dan Roma tetap bisa tampil di kompetisi Eropa yang sama. Kenyataannya, kondisi tersebut tidak terjadi, sementara UEFA menerapkan aturan soal struktur kepemilikan semacam itu secara ketat.
Akibatnya, TFG berisiko harus menempatkan salah satu klubnya dalam skema blind trust atau perwalian agar terhindar dari sanksi. Langkah itu tentu tidak sederhana, mengingat Roma juga merupakan aset besar yang menuntut investasi serius. Beban pembiayaan untuk dua klub sekaligus inilah yang disebut menjadi salah satu pertimbangan utama di balik rencana penjualan Everton.
Ambisi TFG di sektor lain juga menambah tekanan pada struktur keuangan mereka. Perusahaan tengah bersiap meluncurkan waralaba NHL di Houston dengan nilai sekitar 3,5 miliar dolar AS, sebuah proyek besar yang memerlukan alokasi modal signifikan. Dalam konteks inilah keputusan mencari investor baru untuk Everton terlihat sebagai upaya menata kembali portofolio aset olahraga mereka.
Harga Jual, Modal Awal, dan Potensi Keuntungan TFG
Momentum penjualan ini juga dinilai sebagai peluang TFG meraup keuntungan cepat. Klub ini dibeli sebagai aset bermasalah dari Moshiri pada Desember 2024, dengan TFG mengeluarkan sekitar 400 juta poundsterling untuk mengambil alih Everton beserta utangnya yang cukup besar. Moshiri sendiri dilaporkan menerima 25 juta poundsterling sebagai pembayaran awal dari proses tersebut.
Sejak mengambil alih, TFG disebut berhasil menstabilkan keuangan klub dan mengamankan pendanaan untuk Hill Dickinson Stadium dengan syarat yang lebih menguntungkan. Bila seluruh saham dilepas, harga permintaan sekitar 800 juta poundsterling, termasuk utang jangka panjang sekitar 380 juta poundsterling, akan menjadi imbal hasil yang sehat bagi mereka. Meski demikian, pernyataan resmi menegaskan bahwa semua tingkat investasi masih terbuka untuk dipertimbangkan, bukan hanya penjualan penuh.
Perlu dicatat bahwa angka-angka tersebut menggambarkan besaran uang yang berpindah tangan, bukan nilai bersih yang langsung masuk kantong pemilik. Sebab, sebagian besar nilai klub melekat pada utang dan komitmen pembangunan infrastruktur yang tetap harus ditanggung pihak mana pun yang mengambil alih. Karena itu, struktur kesepakatan akan sangat menentukan apakah TFG benar-benar untung besar atau sekadar keluar tanpa kerugian.
Apa Artinya bagi Everton dan Para Pendukungnya
Dengan kepindahan ke stadion baru yang sudah rampung dan kondisi keuangan yang lebih stabil, Everton kini jauh lebih menarik dibanding saat TFG membelinya. Klub memiliki aset fisik modern, basis pendukung besar, dan posisi di Liga Premier yang membuatnya mudah dipasarkan ke investor global. Ini alasan TFG yakin proses penjualan bisa berjalan cepat.
Bagi para pendukung, ketidakpastian pemilik baru membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, masuknya investor segar bisa berarti tambahan dana untuk memperkuat skuad pada Januari dan musim-musim berikutnya. Di sisi lain, pergantian pemilik di tengah musim biasanya membawa risiko perubahan arah kebijakan, termasuk masa depan manajer dan strategi transfer.
Yang jelas, pengumuman ini menandai babak baru bagi Everton setelah bertahun-tahun diterpa masalah finansial. TFG menegaskan bahwa mereka tidak akan melepas klub ke sembarang pihak, sehingga profil calon pembeli akan menjadi perhatian utama publik sepak bola Inggris dalam beberapa bulan ke depan.
Proses penjualan Everton berpotensi berjalan lebih cepat dari perkiraan banyak orang, mengingat kondisi klub yang sudah tertata dan minat investor terhadap klub Liga Premier yang tetap tinggi. Namun hingga pembeli resmi muncul, seluruh agenda olahraga klub, termasuk belanja pemain pada Januari, akan berjalan di bawah bayang-bayang ketidakpastian kepemilikan. Apa pun hasilnya, keputusan TFG hari ini menegaskan bahwa era mereka di Goodison Park, atau kini Hill Dickinson Stadium, bisa segera berakhir jauh lebih cepat dari yang dibayangkan saat akuisisi dilakukan.
