Andoni Iraola Kembali ke Bournemouth Bersama Liverpool

Andoni Iraola akan menjalani laga penuh nostalgia akhir pekan ini. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Bournemouth musim lalu, pelatih berusia 44 tahun itu berhadapan dengan klub yang ia tangani selama tiga tahun — dan kini ia melakukannya dari kubu Liverpool. Iraola sendiri mengakui pertemuan itu akan terasa janggal, karena ia justru lebih mengenal skuad lawan dibanding skuadnya sendiri.

Laga tersebut menjadi ujian tersendiri di tengah awal karier Iraola di Anfield yang belum sepenuhnya mulus. Liverpool memang masih belum terkalahkan, tetapi tiga hasil imbang membuat kiper Alisson menyampaikan ketidakpuasan secara terbuka kepada media internal klub. Menurutnya, catatan tak terkalahkan yang dihiasi tiga seri bukan pencapaian yang layak dibanggakan bagi tim sebesar Liverpool, dan ia menegaskan skuadnya harus tetap membidik target besar.

Andoni Iraola Hadapi Klub yang Paling Ia Kenal

Menghadapi Bournemouth, Iraola menyadari bahwa lawannya sudah sangat memahami pola permainan yang ia terapkan. Ia menyebut pertandingan ini akan berjalan rumit karena Bournemouth tahu betul apa yang coba dilakukan timnya. Meski begitu, Iraola juga menegaskan dirinya masih menyimpan pengetahuan mendalam soal kekuatan dan kelemahan mantan anak asuhnya itu.

“Ini akan terasa aneh bagi saya,” ujar Iraola menjelang pertandingan. Pernyataan itu cukup menggambarkan posisinya yang tidak biasa: seorang pelatih yang berhadapan dengan bekas timnya sendiri, dengan informasi yang mungkin lebih lengkap soal kubu lawan ketimbang soal skuad yang kini ia tangani.

Kedekatan Iraola dengan Bournemouth tidak berhenti begitu ia pergi. Pada Juni lalu, ia menghabiskan lebih dari dua jam untuk memberi pengarahan kepada Marco Rose, penerusnya di Vitality Stadium, mengenai skuad dan staf Bournemouth. Proses serah terima itu berjalan lancar karena kepergian Iraola, menurut pengakuannya sendiri, berlangsung “sangat bersih”. Ia bahkan memilih tetap tinggal di pesisir selatan Inggris sementara dua anaknya yang masih kecil menyelesaikan masa sekolah.

Apakah dalam pertemuan itu keduanya juga membahas bagaimana Bournemouth menjelma menjadi spesialis imbang musim lalu, tidak pernah terungkap ke publik. Yang jelas, warisan itu nyata dan tercatat rapi dalam statistik Premier League.

Warisan Hasil Imbang Bournemouth yang Sulit Dilupakan

Pada musim lalu, tidak ada pelatih di Premier League yang mencatatkan hasil imbang lebih banyak daripada Iraola. Tim Bournemouth asuhannya ditahan imbang hingga 18 kali, jumlah tertinggi di liga dengan jarak yang cukup lebar dari pesaing terdekat. Leeds berada di posisi kedua dengan 14 hasil imbang.

Sebanyak sepuluh dari hasil imbang itu terjadi di Vitality Stadium, atau setara 52,63 persen dari seluruh laga kandang mereka di liga. Akumulasi tersebut berdampak langsung pada posisi akhir Bournemouth, yang akhirnya gagal mengamankan tiket kelima sekaligus terakhir ke Liga Champions karena tertinggal tiga poin dari Liverpool — tim yang saat itu dilatih Arne Slot dan lolos dengan langkah sempoyongan.

Rekor pribadi Iraola pun terbilang ekstrem. Dalam 38 pertandingan liga terakhirnya, ia mencatatkan 21 hasil imbang. Jumlah itu menyamai rekor Premier League yang sebelumnya dipegang Mark Hughes, yang mencapai angka identik dalam rentang 38 laga bersama Manchester City dan Fulham antara Oktober 2009 dan Februari 2011.

Bedanya, Hughes sempat menganggur sekitar tujuh bulan di antara dua pekerjaan tersebut. Karena itu, Iraola tercatat sebagai pelatih Premier League pertama yang menorehkan 21 hasil imbang dari 38 pertandingan dalam rangkaian yang berjalan tanpa jeda.

Mengapa Hasil Imbang Lebih Merugikan Liverpool

Jumlah laga Iraola di Liverpool memang masih terlalu sedikit untuk menarik kesimpulan besar. Ia juga masih mencari keseimbangan dan menilai opsi yang tersedia, sesuatu yang terlihat dari seringnya perubahan di kedua posisi bek sayap serta lini tengah. Namun, satu hal tidak bisa dibantah: hasil imbang bersama Liverpool jauh lebih merugikan ambisi klub ketimbang hasil imbang bersama Bournemouth.

Tiga hasil imbang dari empat pertandingan liga membuat Arsenal dan Manchester City dengan cepat membangun jarak enam poin yang mengkhawatirkan di atas Liverpool, juara 2025. Erangan yang terdengar di Anfield saat timnya ditahan imbang Nottingham Forest dan Fulham menjadi bukti bahwa kesabaran pendukung belum pulih dari kekecewaan musim sebelumnya.

Iraola menilai reaksi tersebut wajar sepenuhnya. Ia mengaku sudah menyadari hal itu sebelum datang ke Liverpool, dan memahami bahwa standar hasil di kedua klub berbeda. Menurutnya, bermain imbang 2-2 di markas Newcastle bersama Bournemouth bisa dianggap hasil bagus, tetapi hal yang sama tidak berlaku bagi Liverpool karena target dan ekspektasi timnya jauh lebih tinggi.

Pelajaran dari Pemain Akademi dan Kemenangan di Carabao Cup

Bagi Iraola, hasil imbang melawan Fulham adalah langkah mundur setelah dua langkah maju saat menghadapi Ipswich dan Atlético Madrid. Momentum itu kemudian dipulihkan oleh tim Liverpool yang lebih muda dan lebih segar melalui kemenangan di Carabao Cup atas Tottenham pada hari Selasa.

Setelah menuntut kerja lebih keras dari lini depannya pasca-imbang kontra Fulham, Iraola mengistirahatkan Alexander Isak, Florian Wirtz, Bradley Barcola, dan Victor Muñoz saat melawan Spurs. Kesempatan itu dimanfaatkan sejumlah pemain muda: Lewis Koumas, James McConnell, Rio Ngumoha, dan Trey Nyoni memberikan kontribusi tanpa henti dan ikut mengantar tim meraih kemenangan.

Menariknya, para pemain akademi tampak lebih menyelami metode dan instruksi Iraola dibanding para pemain senior yang berharga mahal. Liverpool juga memiliki tiga penyerang bernilai lebih dari 100 juta poundsterling, sehingga tuntutan terhadap mereka otomatis lebih besar. Sementara itu, keseimbangan lini tengah masih menjadi sorotan, terutama karena Wirtz kembali menunjukkan performa Premier League yang biasa-biasa saja setelah tampil baik di Liga Champions — pola yang sering terjadi musim lalu.

Bergantung pada bagaimana laga melawan Bournemouth berjalan, Iraola bisa menghabiskan jeda internasional yang panjang untuk mempertimbangkan sejumlah keputusan besar. Sejauh ini, ia tidak pernah menunjukkan keraguan untuk mengambil keputusan semacam itu.

Tuntutan Sama untuk Semua Pemain

Iraola menegaskan bahwa ia tidak memberikan instruksi berbeda kepada pemain hanya karena harga transfernya lebih mahal. Menurutnya, tuntutan terhadap semua pemain tetap sama, meski ia tetap harus menyesuaikan diri dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu. Penyesuaian itu, katanya, diperlukan agar sisi kolektif tim bisa dimaksimalkan.

Ia mencontohkan pengalamannya di Bournemouth, di mana ada pemain yang mampu berlari tanpa henti dan ada pula yang tidak. Sebagian lebih cepat, sebagian lebih lambat, sebagian lebih produktif mencetak gol, dan sebagian lain unggul dalam situasi bola mati. Bagi Iraola, tidak ada pemain yang seragam, sehingga pelatih harus terus beradaptasi dengan materi yang ada, seraya mengakui bahwa ia merasa semua pemainnya di Liverpool sudah berusaha maksimal untuk meraih kemenangan.

Saat ditanya apakah ia menginginkan sebelas pemain dengan mentalitas seperti Koumas, Iraola tertawa dan menyebutnya pertanyaan yang menjebak. Ia mengaku menyukai keinginan dan kontribusi Koumas, yang disebutnya sebagai contoh baik terutama bagi pemain dari akademi karena berhasil memanfaatkan peluang. Namun, ia juga menegaskan bahwa Koumas masih harus banyak dibenahi di area lain, karena ada aspek permainan yang perlu diperbaiki.

Pada akhirnya, seluruh elemen di Liverpool tampaknya sedang menempuh proses belajar dalam pekerjaan yang menuntut hasil akhir yang sudah matang. Iraola datang dengan rekam jejak yang mengesankan, tetapi menghadapi Bournemouth dan dinamika di Anfield, ia dituntut untuk terus menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya sebagai pelatih.