Federasi Sepak Bola Swiss (SFV) resmi mencabut dukungannya terhadap pencalonan ulang Gianni Infantino sebagai presiden FIFA. Keputusan itu dikonfirmasi pada Rabu, setelah komite eksekutif SFV menggelar rapat pekan ini dan membalik sikap yang sebelumnya mereka ambil. Langkah tersebut menambah panjang daftar pukulan yang diterima Infantino dalam upayanya mempertahankan jabatan.
Yang membuat keputusan ini terasa istimewa adalah latar belakangnya: Infantino lahir di Brig, sebuah kota di kanton Valais, Swiss bagian selatan. Artinya, federasi dari negara asalnya sendiri kini menilai dukungan terhadapnya sudah tidak bisa dipertanggungjawabkan. SFV pun bergabung dengan sejumlah asosiasi sepak bola Eropa yang lebih dulu menarik dukungan sebelum pemilihan berlangsung.
Alasan di Balik Pencabutan Dukungan
SFV tidak mengambil keputusan ini secara mendadak. Dalam pernyataannya, federasi menyebut langkah tersebut sebagai hasil penilaian menyeluruh atas berbagai perkembangan selama beberapa bulan terakhir. Dari sudut pandang mereka, sejumlah insiden telah memunculkan pertanyaan mendasar soal kepemimpinan, tata kelola, transparansi, serta proses pengambilan keputusan di dalam FIFA.
Menurut SFV, pertanyaan-pertanyaan penting mengenai tanggung jawab dan mekanisme pengambilan keputusan FIFA itu belum terjawab dengan meyakinkan. Karena alasan itulah mereka menilai tidak lagi punya dasar untuk melanjutkan dukungan. “Karena hal-hal tersebut tidak diklarifikasi secara meyakinkan, kami tidak bisa membenarkan untuk terus mendukung pencalonan Gianni Infantino,” demikian pernyataan federasi tersebut.
Perubahan sikap ini juga menandai pergeseran yang cukup cepat. Sebelumnya, pada Juni, SFV masih memberikan dukungan kepada Infantino. Namun dalam rapat pekan ini, komite eksekutif memutuskan untuk membalik posisi tersebut. Pergeseran dalam hitungan beberapa bulan itu menunjukkan bahwa kekhawatiran soal arah kepemimpinan FIFA tidak lagi hanya muncul dari asosiasi yang sejak awal berseberangan.
Kronologi: Dari Dukungan Juni sampai Pembatalan Rencana
Infantino memimpin FIFA sejak 2016 dan berambisi melanjutkan jabatannya melalui pemilihan pada Maret. Namun posisinya mulai terguncang ketika rencana menjual sebagian saham turnamen-turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia, terungkap ke publik pada Juli. Rencana itu memicu gelombang protes keras dari berbagai pihak.
Besarnya penolakan membuat rencana tersebut akhirnya ditinggalkan dengan cepat. Meski begitu, polemiknya tidak ikut hilang. Sejak momen itu, oposisi terhadap Infantino justru terus tumbuh, dan sejumlah asosiasi nasional mulai meninjau ulang dukungan mereka terhadapnya.
Bulan ini, Infantino mengirim surat kepada asosiasi anggota dan menyatakan terbuka terhadap pembicaraan soal reformasi. Tawaran dialog itu tampaknya belum cukup meredam kekhawatiran. SFV secara eksplisit menyatakan bahwa pertanyaan inti soal tanggung jawab dan proses pengambilan keputusan FIFA masih belum dijawab secara memuaskan, sehingga dukungan mereka tidak bisa dilanjutkan.
Gelombang Penarikan Dukungan di Eropa
SFV bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Asosiasi sepak bola di Inggris, Wales, Prancis, Serbia, serta sejumlah negara Eropa lainnya sudah lebih dulu mencabut dukungan mereka sebelum pemilihan digelar. Penarikan dukungan oleh SFV menambah tekanan yang semakin besar terhadap posisi Infantino.
Di sisi lain, UEFA telah menyatakan akan mengajukan kandidat tandingan sebelum tenggat waktu pada November. Janji itu mengubah peta pemilihan: Infantino berpotensi menghadapi lawan nyata, bukan sekadar bertarung tanpa pesaing. Karena itu, dukungan dari asosiasi anggota menjadi semakin menentukan.
Dinamika ini juga memperlihatkan bahwa dukungan politik di dunia sepak bola tidak bersifat permanen. Asosiasi yang semula berada di barisan Infantino bisa berbalik arah ketika muncul kekhawatiran soal tata kelola. Dalam situasi seperti ini, setiap pernyataan dan setiap keputusan federasi menjadi sinyal politik yang penting bagi calon lain maupun bagi FIFA sendiri.
Apa Artinya bagi Infantino dan FIFA
Bagi Infantino, pencabutan dukungan oleh federasi negara kelahirannya memiliki bobot simbolis yang besar. Rangkaian penarikan dukungan dari berbagai asosiasi menunjukkan bahwa basis pendukungnya kian menyusut menjelang pemilihan. Tekanan ini datang di tengah seruan agar ia mundur dan permintaan reformasi yang meluas di tubuh organisasi sepak bola dunia.
Infantino, yang kini berusia 56 tahun, telah menghadapi desakan tersebut selama beberapa waktu. Melalui suratnya kepada asosiasi anggota, ia menyatakan kesediaan berdiskusi soal reformasi. Namun pernyataan SFV memperlihatkan bahwa kesediaan berdialog saja tidak otomatis dianggap cukup, terutama bila pertanyaan soal transparansi dan pengambilan keputusan belum dijawab secara jelas.
Bagi FIFA, persoalannya lebih luas daripada sekadar siapa yang menang dalam pemilihan. Pertanyaan soal kepemimpinan, akuntabilitas, dan proses pengambilan keputusan menyangkut kredibilitas lembaga itu sendiri di mata asosiasi anggota dan publik sepak bola. Ketika federasi-federasi nasional secara terbuka menyatakan keraguan, hal itu menjadi sinyal bahwa persoalan tata kelola tidak bisa lagi diabaikan begitu saja.
Konteks Lebih Luas dan Langkah Berikutnya
Setelah tenggat pengajuan kandidat tandingan pada November, perhatian akan beralih ke pemilihan pada Maret. Dalam rentang waktu itu, asosiasi anggota masih memiliki ruang untuk meninjau ulang sikap mereka, baik karena perkembangan baru maupun karena proses negosiasi politik yang berjalan di belakang layar. Karena itu, peta dukungan bisa terus berubah.
Kasus ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di dunia olahraga internasional, yakni meningkatnya tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas pengurus federasi. Isu seperti penjualan aset turnamen, pengambilan keputusan yang tertutup, dan pertanggungjawaban pemimpin menjadi sorotan yang sulit dihindari. Federasi nasional kini semakin berani menyuarakan sikap mereka secara terbuka.
Jika pertanyaan mengenai tata kelola dan proses pengambilan keputusan FIFA tidak dijawab dengan memuaskan, tekanan terhadap Infantino berpotensi berlanjut hingga pemilihan. Sebaliknya, keterbukaan terhadap reformasi bisa menjadi ruang negosiasi yang menentukan arah dukungan asosiasi anggota. Apa pun hasilnya, dinamika beberapa bulan ke depan akan menjadi ujian bagi kepemimpinan FIFA.
Pencabutan dukungan oleh Federasi Sepak Bola Swiss menegaskan bahwa pencalonan ulang Gianni Infantino tidak lagi berjalan mulus. Alasan yang dikemukakan SFV menyentuh persoalan inti: kepemimpinan, tata kelola, transparansi, dan proses pengambilan keputusan di FIFA yang dinilai belum terjawab dengan meyakinkan.
Dengan semakin banyaknya asosiasi Eropa yang menarik dukungan dan adanya rencana UEFA mengajukan kandidat tandingan, pemilihan pada Maret akan menjadi momen penting bagi arah kepemimpinan FIFA. Hingga saat itu, pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah FIFA mampu meyakinkan kembali asosiasi anggotanya bahwa reformasi benar-benar berjalan?
