Liga Primer Inggris mengambil langkah yang jarang dilakukan kompetisi olahraga besar: mengangkat isu kesehatan mental pria ke panggung utama. Sepanjang 4–14 September, Premier League menjadi sponsor kampanye Together Against Suicide, sebuah inisiatif yang mengajak orang untuk mau berbicara ketika mereka merasa tertekan. Dukungan mengalir dari nama-nama besar, termasuk kapten tim nasional Inggris Harry Kane dan Pangeran William, sementara akun resmi liga menyebarkan pesan solidaritas bagi siapa saja yang sedang berjuang.
Pesan seperti ini sederhana dan berlaku untuk semua orang, apa pun usia, jenis kelamin, atau latar belakangnya. Namun sasarannya menyentuh satu kelompok secara khusus, yaitu pria paruh baya, yang tercatat paling berisiko mengakhiri hidupnya sendiri dibanding kelompok usia lain. Kolom yang melandasi tulisan ini ditulis oleh seorang pria paruh baya yang mengaku pernah berada di titik terendah, dan justru karena itulah ia menilai kampanye tersebut layak dibahas lebih dalam.
Kampanye Liga Primer dan Daya Tembus Sepak Bola
Kampanye Together Against Suicide berlangsung pada 4 hingga 14 September dengan Premier League sebagai sponsornya. Liga mengunggah kata-kata solidaritas melalui akun X, meski sang kolumnis menyindir bahwa media sosial mungkin bukan tempat terbaik untuk mencari penghiburan. Dukungan dari Harry Kane dan Pangeran William memberi bobot tambahan, karena keduanya figur yang didengar oleh jutaan orang di Inggris dan sekitarnya.
Yang membuat langkah ini berarti bukan kemegahannya, melainkan jangkauannya. Tidak ada institusi lain yang memiliki tingkat jangkauan dan daya tembus sebesar sepak bola, terutama di negara-negara tempat liga ini menjadi ritual mingguan. Ketika pesan itu disampaikan lewat pertandingan yang ditonton puluhan juta orang, kemungkinan ada satu orang di antara penonton yang tersentuh menjadi jauh lebih besar. Bagi penulisnya, satu orang saja yang terpengaruh sudah cukup untuk disebut hasil yang membahagiakan.
Gaya penyampaiannya mungkin terasa agak lugas, bahkan terkesan menabrak. Namun apa yang dilakukan sepak bola dalam kasus ini jelas-jelas baik dan tidak perlu diberi catatan miring. Kampanye semacam ini tidak menuntut pemahaman rumit dari penontonnya, hanya kesediaan untuk menyimak dan mungkin berbicara.
Pria Paruh Baya, Kelompok yang Paling Sulit Dijangkau
Data yang diangkat dalam kolom ini cukup keras: pria paruh baya lebih berisiko meninggal karena bunuh diri dibanding kelompok usia mana pun. Pada fase hidup itu pula mereka lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan. Kelompok ini sulit dijangkau justru karena persoalannya sering berlangsung di luar pandangan orang lain.
Yang paling menyayat adalah ketika semuanya terjadi tanpa satu pun tanda bahwa ada masalah. Tidak ada sinyal, tidak ada keluhan, tidak ada perubahan yang bisa dibaca dari luar. Akibatnya, orang-orang terdekat kerap baru menyadari ada sesuatu yang salah setelah terlambat.
Penulis kolom ini mengakui bahwa dirinya pun pernah menempuh jalan itu, sebagian saja. Masa pandemi Covid-19 menjadi pemicu terbesarnya: kelelahan, isolasi, dan kenyataan yang tak bisa dihindari bahwa hidup harus terus dijalani. Bersama perasaan itu muncul pertanyaan yang mengganggu, apakah benar semua ini harus terus dilanjutkan.
Hal semacam itu bisa menyusup ke dalam pikiran seperti bayangan, mula-mula hanya sebagai gagasan yang lewat begitu saja. Lama-kelamaan seseorang menyadari ada bayangan di sudut ruangan, ada hantu yang duduk di kursi, dan hantu itu sedang berbicara kepadanya. Pengalaman ini tidak istimewa dan tidak unik, karena banyak orang lain juga pernah berada di titik serupa.
Kenapa Pria Sulit Bicara soal Rasa Sakit
Menjadi pria itu sulit pada usia berapa pun, atau setidaknya sulit dengan cara yang berbeda dari bentuk kesulitan lain. Pernyataan semacam ini mungkin tidak langsung menuai gelombang simpati besar, dan di situlah letak sebagian persoalannya. Rasa sakit datang kepada semua orang tanpa memandang gender, sehingga tidak ada hierarki penderitaan yang bisa dipakai untuk mengurutkan siapa yang lebih berhak mengeluh.
Namun rasa sakit dan keterasingan yang dialami pria sering dipikul seperti beban mati, justru karena anggapan bahwa keluhan mereka tidak sepenting keluhan orang lain. Ketika perasaan itu tidak pernah diberi ruang, ia menumpuk tanpa tempat untuk keluar.
Seiring bertambahnya usia, persoalan itu sering berkaitan dengan rasa tidak lagi dibutuhkan. Pria ingin melakukan sesuatu, dan ada semacam program bawaan untuk merasa berguna serta menjalankan suatu fungsi. Dalam gambaran yang sedikit jenaka, banyak pria paruh baya akan jauh lebih bahagia jika seseorang memberi mereka sepotong kayu besar, meminta mereka memotongnya menjadi dua, lalu di penghujung hari mengatakan bahwa pekerjaan mereka bagus dan semua orang bangga. Besok mereka bisa datang lagi untuk menyatukan kembali potongan kayu itu.
Sebaliknya, yang dirasakan adalah seolah setiap bagian dunia bekerja sendiri-sendiri untuk membuat seseorang merasa tidak berharga. Pekerjaan yang menyusut, kegunaan yang menguap, isolasi, dan cara hidup yang melelahkan secara diam-diam tanpa trauma yang jelas. Pria tidak pandai mengolah semua ini, dan strategi yang selama ini diwariskan adalah tidak mengolahnya sama sekali: terus saja berjalan, terus berlari melewati zona merah. Cara itu bukan rencana jangka panjang yang bisa diandalkan.
Dua Pelajaran: Rangkul Perasaan, Lalu Tetap Bertarung
Pelajaran pertama terdengar seperti klise, tetapi menurut penulisnya memang benar adanya: rangkul perasaan itu dan bicarakan. Perasaan buruk bukanlah versi diri yang lebih dalam dan lebih jujur; hal-hal baik juga nyata dan sama nyatanya. Keduanya akan berlalu, lalu datang lagi, dan begitu seterusnya.
Hal-hal kecil ternyata ikut membantu. Nasihat dari orang-orang yang bersemangat dan bersuara lantang di internet sebenarnya ada benarnya: jangan makan sembarangan, keluar rumah, dan bicaralah dengan orang lain. Mengingat bahwa matahari juga terbit setiap pagi, dan bahwa kemampuan merasa sangat terpuruk justru menjadi bukti adanya kemampuan untuk merasa bahagia. Menurut Pangeran William, kemampuan membicarakan hal semacam ini adalah kebalikan langsung dari kelemahan, dan penulis kolom ini sepakat sepenuhnya. Akan selalu ada seseorang yang bersedia menemani, dan orang itu akan semakin menghargai kita karena keberanian tersebut.
Pelajaran kedua adalah keharusan untuk tetap bertarung. Bentuk maskulinitas lama seperti bersikap stois dan menahan perasaan sering mendapat citra buruk, padahal semua orang tetap membutuhkan sedikit sifat itu. Masalahnya, pria kerap tidak diajari apa pun untuk melengkapi sikap tersebut.
Hidup memang brutal dan pada akhirnya akan menagih setiap orang. Melawan kenyataan itu adalah tindakan heroik, terlebih ketika seseorang sedang menderita. Puisi Inggris kuno penuh kisah epik tentang para pejuang melankolis yang menangis karena kesedihan aula yang kosong, sementara dalam budaya Romawi kemampuan merangkul kemurungan dan ketakutan dianggap sebagai tanda maskulinitas tertinggi, sejajar dengan kemampuan menebas musuh. Scipio membakar Kartago hingga rata dengan tanah, lalu jatuh ke dalam depresi berat, dan justru saat itulah ia dipandang semakin maskulin karena tersentuh kedalaman jiwanya sendiri.
Sepak Bola Besar dan Dunia yang Melahirkannya
Ada satu adegan yang diingat penulisnya ketika menyaksikan laga Arsenal akhir pekan lalu. Sebelum kick-off, sebuah suara yang ceria mengumumkan bahwa bunuh diri tidak selalu tak terhindarkan, seolah yang sedang dibicarakan adalah ketombe atau kebiasaan kurang minum air. Pesan itu bagus dan bahkan sangat bagus, namun pada saat yang sama terasa seperti upaya meredam efek dunia tempat olahraga besar tumbuh dan meraup keuntungan. Dunia itu sendiri layak dipertanyakan.
Tidak sulit memahami mengapa televisi Amerika begitu penuh iklan antidepresan. Lihat saja apa yang mengisi sela-sela tayangannya: makanan buruk yang merendahkan, barang konsumsi yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetapi harus dibangkitkan hasratnya, pil untuk melepaskan seseorang dari kecanduan opioid yang sudah diberikan sebelumnya, dan pesan-pesan menggairahkan dari korporasi yang diam-diam membenci penontonnya. Format iklannya pun hampir selalu sama, menampilkan orang-orang yang tampak bahagia dan bugar sambil bermain frisbee atau berjalan di pasar barang antik, diiringi suara hangat yang menjelaskan betapa mengerikan hidup mereka. Lebih dari 50 juta orang Amerika mengalami depresi, dan industri yang bergerak di sekitar persoalan itu bernilai sekitar £6 miliar, sebuah pertemuan antara permintaan dan pasokan.
Olahraga besar tidak berdiri di luar dunia tersebut, melainkan bagian dari sistem yang sama. Ia kini menaruh perhatian pada pria paruh baya yang tak lagi mampu membeli tiket, yang merasa terasing dari kegiatan yang dulu sekadar jadi ajang bersenang-senang dan berkumpul, dan yang otaknya harus menanggung kemarahan terkurasi dari dunia maya. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah tempat itu benar-benar tempat yang ramah.
Meski begitu, ada catatan harapan yang tetap layak diingat. Beberapa tahun lalu, Ben Stokes mampu berbicara tentang depresi yang dialaminya sementara pada saat yang sama tampil di puncak performa sebagai kapten Inggris, dan gelombang simpati yang mengalir saat itu terasa seperti pesan yang belum pernah disampaikan dengan cara serupa. Intinya, seseorang bisa merasa terpuruk dan tetap baik-baik saja, bahkan tetap berfungsi secara heroik, karena merasakan semua itu memang bagian dari kemampuan untuk merasa.
Penutup
Kampanye Together Against Suicide yang digelar Premier League pada 4–14 September menunjukkan satu hal penting: sepak bola punya kekuatan untuk menyampaikan pesan yang benar-benar sampai kepada orang-orang yang paling sulit dijangkau. Pria paruh baya adalah kelompok yang paling berisiko, paling jarang bersuara, dan paling sering membawa bebannya sendirian. Pesan bahwa berbicara bukan tanda kelemahan, ditambah nasihat sederhana untuk makan layak, keluar rumah, dan menemui orang lain, adalah bentuk dukungan yang nyata dan mudah dilakukan.
Yang perlu diingat, berbicara bukan satu-satunya langkah. Setiap orang juga perlu belajar bertarung dan menerima bahwa merasakan sedih bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari menjadi manusia. Jika kamu atau orang di sekitarmu sedang dalam krisis, bantuan tersedia dan tidak perlu ditanggung sendirian:
- Inggris dan Irlandia: Samaritans, telepon gratis 116 123.
- Amerika Serikat: hubungi atau kirim pesan ke Suicide & Crisis Lifeline di 988, atau mengobrol lewat 988lifeline.org.
- Australia: layanan dukungan krisis Lifeline di 13 11 14.
- Negara lain: daftar saluran bantuan internasional tersedia di befrienders.org.
