Data Liga Champions: Dominasi Inggris di Pekan Pertama

Pekan pertama Liga Champions 2026-27 sudah berjalan, dan data Liga Champions langsung menunjukkan satu pola yang mencolok: dominasi mutlak klub-klub Inggris. Semua wakil Premier League meraih kemenangan di matchweek pembuka, sementara masih tersisa 126 pertandingan yang harus dimainkan sebelum kita tahu 24 tim mana yang berhak melaju ke fase gugur.

Angka-angka awal ini penting karena bukan sekadar catatan statistik semalam. Musim lalu, tim-tim Premier League menguasai lima dari delapan slot kualifikasi otomatis, dan pekan pertama kali ini memperlihatkan bahwa mereka berpotensi mengulangi pencapaian tersebut. Di sisi lain, gelaran ini juga menyisakan satu pertanyaan lama: apakah fase liga yang berisi banyak tim mampu menghasilkan kejutan, atau justru berjalan sesuai prediksi buku besar?

Dominasi Total Wakil Inggris di Matchweek Pertama

Seluruh perwakilan Inggris menutup pekan pertama dengan tiga poin. Jika dilihat dari kualitas lawan, Liverpool bisa dibilang yang paling beruntung karena menjadi satu-satunya tim Inggris yang menghadapi lawan dari pot satu pada undian. Namun, mereka bermain di kandang, sehingga kemenangan tandang Arsenal, Aston Villa, dan Manchester City justru terasa lebih mengesankan dari sisi tingkat kesulitan.

Terlepas dari siapa yang paling layak dianggap unggul, dominasi Premier League secara kolektif tergolong absolut. Tim-tim Inggris total melepaskan 102 tembakan berbanding 44 milik lawan, mencatat 28 tembakan tepat sasaran lebih banyak, dan menghasilkan 24 peluang besar versi Opta sementara hanya kebobolan lima kali. Angka-angka itu menggambarkan selisih kelas yang tidak hanya soal hasil akhir, tetapi juga soal penguasaan permainan.

Mereka juga memuncaki grafik selisih expected goal berdasarkan negara, sebuah daftar yang justru menempatkan Italia di posisi paling bawah. Wakil Serie A pada pekan ini diwakili Como yang menang, Roma yang bermain imbang di markas Fenerbahce, serta Napoli dan Inter yang harus berhadapan dengan Arsenal dan Real Madrid. Semuanya belum hilang, tetapi angka-angka Serie A memang jauh dari cantik.

Inter Menekan Real Madrid Habis-habisan di Bernabéu

Inter menjadi salah satu dari hanya dua tim yang mencatat setidaknya 57 sentuhan di area penalti lawan sepanjang pekan ini. Catatan itu terbilang luar biasa tinggi, karena di Premier League musim ini hanya sekali ada tim yang melewatinya, dengan rata-rata liga hanya 24,6 sentuhan per tim per pertandingan. Jika PSG berkemah di kotak penalti Slovan Bratislava itu hal yang wajar, lain cerita dengan Inter yang begitu sering menyentuh bola di area penalti Real Madrid di Santiago Bernabéu.

Akan mudah menganggap ini sebagai Real Madrid klasik: tampil tidak bagus di Liga Champions tetapi tetap menang. Pasukan tuan rumah memang menciptakan sembilan peluang besar dan membuang tujuh di antaranya, sehingga kemenangan mereka bisa saja lebih nyaman jika penyelesaian akhir lebih tajam. Namun, Inter juga mencatat jumlah tembakan terbanyak sebagai tim tamu di kompetisi domestik maupun Eropa dalam pertandingan 90 menit selama delapan tahun terakhir, sehingga Real Madrid pun sebenarnya bisa saja kalah.

Faktor lain yang membuat Inter begitu leluasa adalah komposisi lini belakang tuan rumah. Dari empat pemain bertahan yang tampil, hanya Dean Huijsen, bek berusia 21 tahun, yang sudah ada di skuad musim lalu, dan kondisi itu membantu menjelaskan mengapa Inter mampu melepaskan begitu banyak percobaan ke gawang. José Mourinho menyebut situasi itu “gila, dan bukan kegilaan yang saya sukai”. Penilaiannya jelas tidak salah.

Minim Hasil Imbang, Ambang Poin Bisa Ikut Naik

Tidak ada satu pun laga yang berakhir imbang pada dua malam pertama. Ismail Kartal bahkan mengundurkan diri sebagai pelatih kepala Fenerbahce pada Kamis setelah timnya ditahan 1-1 oleh Roma, sebuah keputusan yang seolah menegaskan betapa ganjil rasanya hasil seri di pekan pembuka ini.

Laga-laga ketat pun sebenarnya jarang terjadi bila dilihat dari angka dasarnya. Hanya empat dari 18 pertandingan yang memiliki selisih expected goal di bawah satu, dan setiap tim yang menang memang layak menang setidaknya menurut xG. Artinya, hasil-hasil di pekan pertama bukanlah keberuntungan semata, melainkan cerminan kualitas permainan masing-masing tim.

Dengan begitu banyak pertandingan yang masih tersisa, minimnya hasil imbang pekan ini bisa jadi tidak berarti apa-apa. Meski demikian, tren ini akan memengaruhi jumlah poin yang dibutuhkan untuk lolos ke babak playoff jika berlanjut. Pada fase liga 2025-26 terdapat 25 hasil imbang, dengan tim di peringkat ke-24, Benfica, finis dengan sembilan poin, sedangkan musim sebelumnya hanya ada 18 hasil imbang dan Club Brugge lolos ke playoff terakhir dengan 11 poin.

Semakin sedikit laga yang berakhir imbang, semakin banyak tim yang mengumpulkan tiga poin, dan itu otomatis menaikkan standar persaingan karena ambang batas poin ikut terdorong naik. Saat ini, jumlah hasil imbang berada di jalur sekitar 16 sepanjang fase liga. Pantas untuk mencermati berapa banyak laga yang berakhir sama kuat ketika matchweek kedua dimulai.

Nyaris Tanpa Kejutan, Underdog Masih Sulit Menang

Meski 16 dari 18 pertandingan berakhir dengan kemenangan, tidak ada kejutan besar yang terjadi. Agar fase liga yang gemuk ini benar-benar menghasilkan kegembiraan, dibutuhkan hasil-hasil di luar dugaan. Menurut buku besar, hanya dua kemenangan yang diraih tim yang diunggulkan sebagai underdog, dan salah satunya datang dari juara Europa League, Aston Villa, atas Club Brugge, yang jelas bukan kejutan jika membandingkan kondisi finansial kedua klub.

Kejutan terbesar pekan ini berdasarkan prediksi sebelum pertandingan adalah kemenangan 3-2 Real Betis di markas Lille. Posisi kedua tim di Power Rankings Opta ada di peringkat ke-49 dan ke-52, sehingga Betis sebenarnya tidak melewati rintangan yang mustahil. Sebagai perbandingan, pekan-pekan awal musim lalu menghadirkan Qarabag yang menang di markas Benfica dan Galatasaray yang mengalahkan Liverpool.

Hasil-hasil seperti itulah yang dibutuhkan kompetisi ini jika ingin menjaga daya tarik fase liga. Tanpa kejutan, pekan pertama cenderung berjalan datar dan mudah diprediksi, sehingga nilai hiburan dan ketegangan yang seharusnya menjadi daya jual format baru ini berkurang.

Konteks Lebih Luas: Apa yang Perlu Dicermati Berikutnya

Kesimpulan besar apa pun dari pekan pertama sebaiknya memang ditahan dulu, karena 126 pertandingan masih menanti. Namun, data awal ini memberi gambaran soal arah kompetisi: klub-klub Inggris datang dengan kedalaman skuad yang membuat mereka sulit diganggu, sementara sebagian wakil liga lain masih mencari bentuk terbaiknya.

Jika dominasi Inggris berlanjut, bukan tidak mungkin lima slot kualifikasi otomatis kembali menjadi milik Premier League seperti musim lalu. Di sisi lain, jumlah hasil imbang dan munculnya kejutan akan menjadi dua indikator utama untuk menilai apakah fase liga benar-benar kompetitif atau hanya memperpanjang jalur tim-tim besar menuju babak gugur.

Kesimpulan

Pekan pertama Liga Champions 2026-27 menegaskan dua hal sekaligus: wakil Inggris masih menjadi kekuatan paling dominan, dan kejutan nyaris tidak terjadi. Inter sempat membuat Real Madrid kerepotan di Bernabéu, tetapi secara keseluruhan tim favorit berhasil mengamankan hasil sesuai prediksi, sementara jumlah hasil imbang yang minim berpotensi menaikkan ambang poin ke babak playoff.

Yang paling layak ditunggu adalah apakah pola ini bertahan atau berubah ketika matchweek kedua bergulir. Sebab from pekan pertama saja, data sudah bicara bahwa jarak antara tim besar dan tim kuda hitam di kompetisi ini masih cukup lebar.