Roberto De Zerbi menilai skuad Tottenham Hotspur belum mencapai kondisi fisik terbaik dan masih harus “membuka blokir” mentalitas mereka. Pernyataan itu muncul setelah De Zerbi Tottenham kembali gagal mencetak gol dalam laga kandang melawan Everton yang berakhir tanpa gol. Pelatih asal Italia tersebut mengakui timnya menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni kebugaran pemain dan tekanan psikologis yang membuat mereka sulit menemukan ritme permainan.
Hasil imbang 0-0 itu memperpanjang catatan buruk Tottenham, yang kini melewati empat pertandingan Premier League tanpa satu gol pun sejak awal musim. Tottenham terpuruk di posisi ke-17 dengan torehan dua poin, dan para pemain meninggalkan lapangan diiringi cemoohan pendukung yang kecewa. Situasi ini menempatkan De Zerbi di bawah sorotan tajam, mengingat tim dengan ambisi besar seperti Tottenham seharusnya tampil jauh lebih kompetitif di awal musim.
Krisis Gol Tottenham Belum Terpecahkan
Duel melawan Everton menjadi gambaran nyata betapa tumpulnya lini serang Tottenham saat ini. De Zerbi menilai timnya tampil meyakinkan pada 30 menit pertama, tetapi perlahan kehilangan tenaga dan ketajaman seiring berjalannya laga. Ia mengakui bahwa kelelahan fisik dan kepercayaan diri yang menurun membuat peluang yang tercipta tidak berbuah hasil maksimal.
Menurut De Zerbi, Tottenham sebenarnya mampu tampil dominan lebih lama jika bisa mempertahankan level permainan hingga 60, 70, 80, bahkan 90 menit penuh. Ia meyakini bahwa bila hal itu terwujud, timnya akan memenangkan banyak pertandingan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata pada kualitas permainan, melainkan pada konsistensi dan daya tahan sepanjang pertandingan.
De Zerbi juga menyoroti perlunya perbaikan di sepertiga akhir lapangan, mulai dari keputusan terakhir, umpan terakhir, hingga keberanian melepaskan tembakan. Menurutnya, para pemain harus lebih sering menembak, terutama ketika mereka memiliki ruang dan waktu yang cukup. Meski hasilnya belum memuaskan, ia menegaskan tidak bisa mengkritik para pemainnya secara negatif.
Cedera dan Pramusim Telat Jadi Penyebab
Dalam beberapa kesempatan, De Zerbi mengaitkan kesulitan awal musim ini dengan pramusim yang berjalan tidak ideal. Ia menyebut tur jarak jauh ke Selandia Baru dan Australia sebagai salah satu pemicu munculnya berbagai masalah. Menurutnya, musim ini dimulai terlambat karena begitu banyak faktor yang saling berkaitan satu sama lain.
Tur tersebut memakan korban di kalangan pemain. Micky van de Ven mengalami cedera di Australia, begitu pula Dominic Solanke, James Maddison, dan Mateus Fernandes. Fernandes disebut kehilangan 15 hari karena cedera, dan menurut De Zerbi, pemulihannya tidak berjalan cepat. Hal ini membuat persiapan tim menjadi berantakan dan berdampak langsung pada kondisi fisik para pemain.
Faktor lain yang disebut De Zerbi adalah Piala Dunia, yang memengaruhi tanggal kembali sejumlah pemain ke klub. Ia juga menyoroti Sávio dan Omar Marmoush yang baru menandatangani kontrak di akhir jendela transfer dan baru tiba sekitar 10 hari sebelum laga. De Zerbi mengaku baru mulai bekerja dengan kelompok lengkapnya “bukan Kamis lalu, melainkan dua Kamis yang lalu”, sehingga timnya belum berada dalam kondisi fisik yang tepat.
Mental Block De Zerbi Tottenham dan Krisis Gol
De Zerbi memperkenalkan istilah Italia “sbloccarsi” untuk menggambarkan kondisi yang dialami timnya saat ini. Istilah itu secara harfiah diartikan sebagai upaya membuka blokir diri dari suatu hambatan. Menurutnya, yang dihadapi para pemain Tottenham saat ini adalah blokir mental karena empat pertandingan tanpa kemenangan dan tanpa satu gol pun.
Ia mengakui bahwa kondisi tersebut sangat berat bagi para pemain. De Zerbi menegaskan bahwa timnya sebenarnya sangat kuat, mampu mencetak gol, dan bisa memenangkan pertandingan. Namun, ia juga meminta semua pihak menghormati rekam jejak para pemain, dengan menyarankan untuk melupakan sejenak Dominic Solanke dan Marmoush serta melihat bahwa pemain lainnya tidak mencetak banyak gol sepanjang karier mereka.
De Zerbi berharap gol-gol itu bisa datang lewat kualitas permainan yang mereka bangun. Ia menilai bahwa mental block De Zerbi Tottenham ini hanya bisa diatasi dengan memperbaiki performa dan kembali mencetak gol. Meski hasilnya belum memuaskan, ia menegaskan tidak bisa mengatakan hal buruk apa pun tentang para pemainnya.
Dampak bagi Tottenham ke Depan
Posisi ke-17 dengan dua poin dari empat pertandingan menempatkan Tottenham pada situasi yang tidak nyaman. Cemoohan dari pendukung di akhir laga menunjukkan bahwa kesabaran mulai menipis. Tekanan ini berpotensi berdampak pada kepercayaan diri pemain, yang justru menjadi salah satu akar masalah menurut De Zerbi sendiri.
Bagi De Zerbi, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara tetap optimistis dan bersikap realistis. Ia menegaskan bahwa timnya harus bersikap realistis, bukan sekadar positif. Pendekatan ini penting agar pemain tidak tenggelam dalam tekanan, tetapi tetap sadar akan kekurangan yang harus segera dibenahi.
Jika krisis gol tak kunjung diatasi, Tottenham berisiko terus tertinggal dari pesaingnya di klasemen. Namun, De Zerbi menilai kualitas permainan timnya sudah menunjukkan tanda-tanda positif, khususnya pada 30 menit awal melawan Everton. Perbaikan di sepertiga akhir lapangan menjadi kunci agar potensi tersebut bisa berubah menjadi gol dan kemenangan.
Konteks Lebih Luas dan Tantangan Berikutnya
Awal musim yang buruk memang bukan hal yang jarang terjadi dalam sepak bola, tetapi bagi Tottenham, situasi ini menuntut penanganan yang cepat. Kombinasi antara cedera, pramusim yang berantakan, dan kepercayaan diri yang menurun adalah persoalan yang saling memperkuat. Tanpa solusi yang tepat, ketiganya bisa berubah menjadi lingkaran sulit yang terus memutar.
De Zerbi melihat bahwa kondisi fisik menjadi salah satu fondasi penting untuk keluar dari masa sulit ini. Ia menekankan bahwa timnya belum berada dalam kondisi fisik yang tepat, sehingga perbaikan kebugaran menjadi prioritas utama. Seiring pemain baru semakin menyatu dengan skuad dan pemain cedera kembali pulih, kondisi bisa berangsur membaik.
Ke depan, fokus utamanya adalah mengubah penampilan menjanjikan di awal pertandingan menjadi hasil nyata selama 90 menit penuh. De Zerbi percaya bahwa jika timnya mampu memperpanjang performa baik itu, banyak kemenangan akan datang menghampiri. Tantangannya kini adalah membuktikan keyakinan tersebut di lapangan, sambil menjaga mental para pemain tetap kuat menghadapi tekanan.
Penutup
De Zerbi Tottenham memang sedang menghadapi awal musim yang sulit, dengan empat laga tanpa gol, dua poin, dan posisi ke-17 di klasemen. Pelatih asal Italia itu mengakui masalah kebugaran serta blokir mental sebagai penyebab utama, di samping cedera dan pramusim yang berjalan telat. Ia tetap percaya bahwa kualitas permainan timnya cukup untuk keluar dari situasi pelik ini.
Perbaikan di sepertiga akhir lapangan, peningkatan kebugaran pemain, dan pemulihan mental menjadi tiga hal yang harus berjalan seiring. Jika ketiganya membaik, peluang Tottenham untuk bangkit dan kembali meraih kemenangan akan terbuka lebar. Sampai saat itu tiba, De Zerbi dan para pemainnya harus mampu menahan tekanan yang datang dari dalam maupun luar lapangan.
