Fernando Roig, presiden Villarreal, adalah salah satu figur paling lama bertahan di kursi kepemimpinan klub Eropa, tetapi ia mengaku tidak pernah benar-benar menikmati pertandingan. Bahkan setelah lebih dari 1.000 laga dan hampir 30 tahun memimpin, rasa khawatir menjelang bola bergulir tak juga hilang. Ia tidak sekadar gugup; ia merasa cemas, tegang, dan menderita.
Perasaan itu akan kembali saat Villarreal menghadapi Liverpool di Anfield. Ini akan menjadi pertemuan kelima mereka dengan Liverpool dan yang ketiga di Anfield, setelah dua pertemuan sebelumnya terjadi di semifinal Eropa. Bagi Roig, laga sebesar itu bukan hanya ujian taktik bagi tim, melainkan juga beban emosional yang sudah menjadi bagian dari rutinitasnya selama puluhan tahun.
Fernando Roig dan Beban Emosional di Kursi Presiden
Wawancara berlangsung pada pagi setelah Villarreal mengalahkan Napoli di Liga Champions. Roig berbicara dari sebuah kantor di markas Pamesa, perusahaan keramik miliknya, di pinggir kota. Di ruangan itu ada lemari berisi foto, cendera mata, bola sepak, dan bola basket, sementara tiga lukisan karya istrinya, Elena Negueroles, memenuhi dinding jauh. Kemenangan atas Napoli penting karena menjadi kemenangan pertama Villarreal di kompetisi tersebut sejak sebelum pertemuan terakhir dengan Liverpool pada semifinal 2022, dan pada hari berikutnya suasana hati Roig selalu lebih baik.
Pada usia 79 tahun, ia bisa menikmati hasil pertandingan pada hari itu, besok, dan lusa. Namun ia tahu ketenangan itu hanya sementara karena Elche akan datang pada Sabtu dan masa “menderita” dimulai lagi. Setelah itu ada laga melawan Liverpool, yang menurutnya sangat menegangkan; ia akan menyaksikan latihan pagi, ikut bepergian bersama tim, makan bersama, lalu menonton tim U-19 keesokan harinya, sebelum akhirnya menyaksikan pertandingan senior yang tidak ia nikmati dan terbang pulang sangat larut.
Ketika ditanya mengapa tetap menjalaninya, Roig menjelaskan bahwa kepuasan datang setelah pertandingan usai. Ada perasaan bahwa kota dan provinsi ikut menikmati, bangga, dan mengagumi tim mereka. Ia menyebutnya soal komunitas: orang mengeluarkan uang untuk datang menonton, mereka ingin menikmati pertandingan, dan klub ingin memberikan pengalaman itu.
Dari Badajoz dan Stadion Kecil ke Anfield
Laga pertama Roig sebagai presiden Villarreal berlangsung di stadion kecil bercat putih, setengah kosong, pada suatu malam Minggu di divisi dua. Villarreal kalah 3-0 dari Badajoz, dan ia tidak menikmatinya. Kenangan itu justru menjadi titik awal: ia mengingatnya sambil berpikir bahwa begitulah semuanya dimulai.
Saat itu Villarreal belum punya lapangan latihan, sehingga tim berlatih di lapangan rumput mana pun yang bisa ditemukan. Stadion mereka menampung kurang dari 4.000 orang. Prioritas pertama Roig adalah membangun skuad yang bisa promosi, mencari lapangan untuk bermain, menyiapkan ruang ganti yang layak, dan menciptakan akademi.
Pada Mei 1997, tawaran untuk membeli klub memang datang sebagai sebuah peluang, tetapi situasinya lebih mirip permohonan bantuan. Villarreal membutuhkan kelangsungan hidup dan stabilitas, bukan kesuksesan instan; membayangkan Anfield saat itu tentu terasa absurd. Klub tersebut menghabiskan sebagian besar sejarahnya di tercera, baru mencapai Segunda B sembilan tahun sebelumnya, dan belum pernah bermain di primera. Pada musim pertama di divisi dua, mereka hanya punya sekitar 1.500 anggota, kesulitan bertahan, dan presiden saat itu, Pascual Font de Mora, sedang sakit serius; keluarganya mencari pihak yang bersedia mengambil alih klub dan menanggung utang mendekati €80 juta.
José Manuel Llaneza ditugaskan mencari pembeli, dan suatu hari ia datang ke kantor Roig. Roig punya modal dan pengalaman di dunia olahraga: ia sudah berada di Pamesa Valencia sejak 1986 dan membawa klub basket itu dari kasta kedua ke ACB, sementara saudaranya, Paco, memiliki tim sepak bola Valencia. Pilihan jatuh pada Villarreal, satu jam ke arah pantai, karena semua pabrik Roig berada di kawasan itu—di Villarreal, Almassora, Onda, dan L’Alcora—dan sekitar 98% keramik Spanyol diproduksi dalam radius 50 km dari kota tersebut. Ia mengenal banyak orang di Villarreal dan provinsi Castellón, dan merasa di situlah ia bisa memberi sesuatu kembali; pemilik klub pun ingin menjual, sehingga tawaran itu menjadi peluang. Bersama Llaneza, yang menjabat manajer umum, consejero delegado, dan wakil presiden, Roig mulai membangun klub di kota berpenduduk sekitar 52.000 orang, sementara saudaranya, Juan, melanjutkan di Pamesa Valencia.
Model Klub: Bertahan Dulu, Bertanding Sehat
Sejak awal, Roig menegaskan bahwa target pertama setiap tahun adalah bertahan. Ia menggambarkannya dengan sederhana: meraih 42 poin, lalu bersulang. Ambisi dan model klub memang menempatkan Eropa sebagai standar minimum, tetapi kesadaran akan batas ekonomi tetap menjadi dasar pengelolaan.
Selama bertahun-tahun, investasi Villarreal diperkirakan mencapai sekitar €200 juta, meski Roig sendiri tidak menghitungnya secara rinci dan sempat menyebut angka €180 juta sebagai perkiraan. Uang itu dipakai untuk lapangan latihan, lapangan latihan berikutnya, dan stadion. Menurut Roig, nilai Villarreal kini lebih besar daripada total investasi tersebut, dan klub terus berkembang dengan perluasan stadion menjadi lebih dari 23.000 kursi—nyaman, berwarna kuning, dan terus direformasi.
Villarreal tidak bisa bersaing secara ekonomi dengan klub-klub terbesar atau klub milik negara. Mereka tidak mampu membayar gaji €10 juta, €12 juta, €15 juta, atau €20 juta. Kebijakan Roig jelas: tetap sustainable, belanja sesuai kemampuan yang dihasilkan, dan tidak menjadi klub penjual—kecuali ada tawaran yang tepat, dengan dua alasan: ekonomi dan keinginan untuk tidak membatasi karier pemain.
Sekarang, putranya, Fernando, menjalankan banyak hal sebagai consejero delegado; ia yang memutuskan, memimpin, dan mengeksekusi. Roig sendiri mengaku tidak banyak melakukan apa pun lagi selain menderita selama pertandingan. Dalam 30 tahun, Villarreal telah melewati 27 musim di divisi pertama dan 19 musim di Eropa, tetapi bagi Roig yang paling penting selalu apa yang terjadi berikutnya.
Forlán, Cazorla, Rodri, dan Ekosistem Villarreal
Anfield menjadi simbol seberapa jauh Villarreal telah melangkah, tetapi ada cerita lain yang menunjukkan cara klub ini bekerja. Saat merekrut Diego Forlán dari Manchester United, Roig meminta Llaneza memasukkan syarat agar United datang bermain laga persahabatan ke Villarreal. United sempat bertanya, “Di mana? Villarreal?” Roig lalu berkata agar mereka tidak khawatir, karena setahun kemudian mereka akan datang sendiri—dan bahkan gratis. Setahun atau dua tahun kemudian, United memang datang dalam laga Liga Champions.
Forlán tidak banyak bermain di United, tetapi Villarreal merawatnya, memberinya perhatian, dan ia menjadi pemain hebat. Ia memenangi Golden Boot di Villarreal, meski menurut Roig tidak banyak dibicarakan karena bermain di klub itu; ketika ia memenanginya lagi bersama Atlético, barulah perhatian datang. Roig tidak malu menyebut Villarreal sebagai klub keluarga: tekanan tidak besar, sorotan media tidak berlebihan, dan tidak ada lingkungan toksik seperti di beberapa klub lain. Karena itu, Villarreal harus menciptakan tekanan dan tuntutan mereka sendiri, terutama melalui ekosistem yang dibangun di dalam klub.
Model itu bekerja setelah klub berinvestasi pada pemain mapan, terutama dari Amerika Selatan, sekaligus mencari pemain muda. Akademi yang dibangun di atas kebun jeruk tua akhirnya berbuah. Nama Santi Cazorla membuat mata Roig berbinar: ia datang sebagai anak muda, Real Madrid menginginkannya, tetapi Villarreal meyakinkannya untuk bertahan; ia melewati banyak cedera, kembali di akhir karier, dan memberi tiga tahun yang luar biasa. Rodri juga menghabiskan lima tahun di Villarreal; ia ingin berkembang, klub tidak menghalangi langkahnya ke Atlético lalu Manchester, dan Roig bangga melihatnya memenangi Ballon d’Or serta Piala Dunia.
Contoh lain adalah Álex Baena, yang datang pada usia 11 tahun dan sempat merasa sedih karena jauh dari rumah di Almería, tetapi tumbuh di Villarreal. Yéremy Pino juga datang sangat muda, begitu pula Borja Iglesias. Ketika diminta memilih satu pemain dari sederet nama seperti Juan Román Riquelme, Robert Pires, Marcos Senna, Bruno Soriano, dan Gerard Moreno, Roig menyebut Pau Torres: lahir di kota itu, meraih kesuksesan di sana, dan memenangi gelar Eropa—satu-satunya pertandingan yang tidak bisa ia hadiri.
Trofi Eropa yang Disaksikan dari Rumah
Final Liga Europa 2021 adalah kemenangan paling epik dalam sejarah Villarreal dan trofi pertama mereka, tetapi Roig tidak bisa menyaksikannya langsung. Seminggu sebelumnya ia terpapar Covid-19. Ia mendapat surat keterangan dari setiap laboratorium di Villarreal yang menunjukkan hasil negatif, tetapi karena ia berada dalam gelembung tim, UEFA menuntut sertifikat lain. Waktu tidak cukup; upaya berdebat dan memberi tekanan tidak berhasil.
Meski begitu, Roig tetap merasa bangga, apalagi ketika Pau Torres mendedikasikan kemenangan itu kepadanya. Pau bahkan kembali dari Polandia dan menyerahkan medali kepada Roig. Medali itu kini tersimpan di lemari belakang putra dan putrinya: cakram emas sederhana dengan pita hitam, melingkari bola pertandingan. Pau memenanginya di sana; Roig harus terbang pulang dan menonton final di rumah bersama istrinya—dengan tenang? Tidak, ia tetap menderita hebat.
Kisah Fernando Roig menunjukkan bahwa kepemilikan dan kepemimpinan klub sepak bola tidak selalu tentang menikmati kemenangan di tribun. Villarreal telah berubah dari klub divisi dua yang berutang dan hampir kehilangan arah menjadi tim yang rutin tampil di Eropa, dengan stadion lebih besar, akademi yang produktif, dan model finansial yang hati-hati. Namun bagi Roig, setiap pertandingan tetap terasa seperti beban: ada kekhawatiran sebelum bola bergulir, ketegangan selama 90 menit, dan kelegaan yang hanya datang setelah semuanya usai.
Menjelang lawatan ke Anfield, simbol jarak yang telah ditempuh Villarreal akan kembali terlihat. Liverpool adalah lawan yang mengingatkan pada semifinal Eropa dan malam-malam besar lain, tetapi juga pada perjalanan panjang sejak laga melawan Badajoz. Roig mungkin tidak akan menikmati pertandingannya, tetapi ia tetap menjalani semuanya karena ada kota, provinsi, dan komunitas yang ingin melihat tim mereka bertanding di panggung terbesar.
