Dua Pelatih Kepala Viking Stavanger dan Misi Liga Champions

Morten Jensen dan Bjarte Lunde Aarsheim, dua pelatih kepala Viking Stavanger, akan memimpin klub dalam pertandingan kandang pertama mereka di Liga Champions melawan Bayern Munich. Laga tersebut menjadi puncak perjalanan panjang yang mengubah Viking dari tim biasa menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Eropa. Pertandingan ini juga menandai langkah baru dalam kisah kepelatihan ganda yang jarang terjadi di level tertinggi.

Kisah ini bukan sekadar tentang taktik atau strategi. Ini adalah cerita tentang dua sahabat yang memulai percakapan di telepon sekitar tahun 2012 atau 2013, ketika keduanya masih bekerja di luar sepak bola—Aarsheim di bank, Jensen di industri minyak dan gas. Mereka berjanji suatu hari akan melatih satu tim bersama. Janji itu kini terwujud, dan membawa Viking Stavanger ke pentas elite.

Awal Persahabatan dan Visi Bersama

Percakapan malam itu menjadi titik balik. Aarsheim, yang telah bermain hampir 300 pertandingan untuk Viking pada 1990-an dan 2000-an, dikenal sebagai gelandang elegan dan kapten yang mengangkat status legenda klub. Sementara Jensen, yang karier bermainnya di Viking terhenti karena cedera, sempat menimba ilmu sepak bola kampus di Amerika Serikat sebelum kembali ke divisi bawah Norwegia dan melatih tim kecil Havørn.

Meski berasal dari latar belakang berbeda, keduanya memiliki satu kesamaan: kecintaan pada Viking dan keinginan membangun sesuatu yang bermakna. Aarsheim adalah sosok yang tenang, analitis, dan selalu mencari solusi. Jensen lebih vokal, berani bermimpi besar, dan mampu menyampaikan visi itu kepada orang lain. Kombinasi ini kemudian menjadi fondasi kerja sama mereka.

“Dia selalu tenang, terukur, dan analitis,” kata Jensen tentang Aarsheim, yang lima tahun lebih tua dan kini berusia 51 tahun. “Kepribadiannya tidak keras kepala, tapi selalu mencari solusi, selalu tertarik belajar hal baru. Dia bisa meledak dan agresif saat diperlukan, tapi pada waktu yang tepat dan dengan alasan yang jelas.” Pujian itu menunjukkan betapa mereka saling melengkapi.

Strategi Rekrutmen dan Filosofi Kepemimpinan

Sejak awal, Jensen dan Aarsheim menerapkan pendekatan rekrutmen yang berani. “Saat merekrut pemain, kami mengatakan sesuatu yang menantang,” ujar Jensen. “Kami selalu bilang: ‘Jika kamu datang ke Viking dan bermain untuk kami, kami akan menjadi pelatih terbaik yang pernah kamu miliki.'” Pernyataan itu bukan sekadar retorika, melainkan janji yang mereka pegang teguh.

Filosofi mereka tidak berhenti pada pengembangan kemampuan sepak bola. Mereka ingin membentuk pemain menjadi pribadi yang lebih baik. “Kami tidak percaya pada bentakan dan teriakan,” kata Jensen. “Itu tidak akan membuat mereka menjadi pemain yang lebih baik. Kami mencoba mengembangkan kecerdasan sepak bola mereka, tetapi juga manusia di dalamnya. Aset terkuat kami adalah manajemen manusia.”

Dalam pengambilan keputusan, keduanya sering berdiskusi, bahkan dengan nada tinggi, bersama staf pelatih. Mereka akan mempertahankan pilihan masing-masing sampai mencapai kesepakatan. Namun, menurut Jensen, 99 persen waktu mereka sudah sepakat tentang siapa yang akan bermain, sehingga jarang membuang waktu untuk perdebatan panjang.

Perjalanan Viking Stavanger dari Keterpurukan ke Gelar Eliteserien

Viking pernah menjadi kekuatan dominan di Norwegia pada 1970-an, tetapi tidak lagi juara sejak 1991. Klub ini bahkan terdegradasi pada 2017. Ketika Jensen dan Aarsheim ditunjuk sebagai pelatih kepala bersama pada November 2020, mereka mewarisi tim yang jauh dari kata elit. Dua tahun pertama menjadi masa pembelajaran berat. “Pada dua tahun pertama, kami belajar banyak hal yang tidak akan pernah kami ulangi,” kenang Jensen.

Finis di posisi ke-11 pada 2022 memaksa mereka mengubah pendekatan. Mereka lebih fokus mengembangkan pemain lokal, sosok-sosok yang memahami arti membela kota pelabuhan Stavanger yang dikelilingi pegunungan. CEO Viking, Eirik Bjørnø, yang saat itu baru berusia 29 tahun, masih ingat momen wawancara kerja sama mereka. Jensen dan Aarsheim datang dengan rencana matang, termasuk dossier 120 halaman tentang cara tim harus bermain.

Ada satu slide yang tak terlupakan: foto sekumpulan domba yang mengikuti domba utama, lalu muncul dua serigala di atasnya. Domba-domba itu melambangkan para pesaing Viking. “Kami bilang: ‘Apakah Anda akan merekrut dua serigala tangguh ini? Kami akan memakan semua domba itu,'” cerita Jensen. Presentasi itu meyakinkan Bjørnø dan direktur olahraga Erik Nevland, mantan penyerang Manchester United dan Fulham. “Kami berada di titik sejarah di mana kami perlu melakukan sesuatu yang berbeda untuk menjadi lebih baik,” ujar Nevland.

Kepercayaan itu terbayar. Tahun lalu, Viking berhasil meraih gelar Eliteserien, mengalahkan Bodø/Glimt yang sebelumnya mendominasi. Ini adalah gelar pertama Viking sejak 1991, sebuah pencapaian yang luar biasa bagi klub yang pernah terdegradasi.

Dampak bagi Stavanger dan Kebangkitan Sepak Bola Lokal

Kesuksesan Viking Stavanger membawa dampak besar bagi kota Stavanger. Kota yang kaya karena penemuan minyak 200 mil lepas pantai pada 1969 ini kembali memiliki kebanggaan pada tim sepak bolanya. “Ada sesuatu yang mendasar yang hilang dari masyarakat di sini,” kata Jensen. “Kami ingin memainkan sepak bola yang menghibur dan menggerakkan orang-orang. Mungkin bagian paling menyenangkan bukanlah Liga Champions atau gelar juara, melainkan melihat begitu banyak anak-anak berlarian dengan jersey Viking di kota dan sekolah-sekolah. Satu dekade lalu, Anda hanya akan melihat jersey Manchester United dan Liverpool. Itu hal yang paling saya banggakan.”

Bjørnø menekankan pentingnya kebersamaan dalam tim. “Kami melakukannya dengan banyak orang yang saling peduli,” katanya. “Kami berusaha menikmati perjalanan bersama, dan itu membuat kami jauh lebih kuat. Ketika Anda meraih kesuksesan bersama, perbedaan besar muncul ketika Anda benar-benar merasa bahwa Anda adalah teman.”

Nevland melihat manfaat lain dari ikatan lokal yang kuat. “Itu memberi kami perasaan bahwa segala sesuatu yang kami lakukan memiliki arti lebih,” ujarnya. “Keputusan yang Anda buat menjadi lebih matang karena sangat penting bagi wilayah ini dan semua orang yang Anda kenal. Jika itu untuk saudara atau tetangga saya, Anda tahu semua keputusan berdampak pada mereka.”

Menghadapi Bayern Munich dan Tantangan Liga Champions

Selasa depan, Viking Stavanger akan menjalani pertandingan kandang pertama di Liga Champions melawan Bayern Munich. Namun, sebelum itu, mereka harus melewati ujian berat melawan rival sekota, SK Brann, di Bergen. Laga derby yang berlangsung empat hari sebelum menghadapi Bayern ini dikenal penuh tekanan. Dalam sesi video, Jensen mengingatkan para pemain tentang kekalahan mereka dari Brann tahun lalu. “Mereka menghancurkan kami di sana, ingat itu,” katanya. “Kami pikir kami akan menang, tapi mereka berlari lebih cepat, menantang kami, dan memiliki lebih banyak energi.”

Aarsheim biasanya mengawasi latihan pertahanan, sementara Jensen fokus pada serangan. Mereka dibantu staf berisi enam orang yang mulai rapat pukul 8.30 pagi untuk memilih 10 klip video pendek. Fokusnya adalah bagaimana Viking dapat menerapkan gaya permainan mereka dan meminimalkan pengaruh lingkungan yang intens dan bising. “Kami akan lebih baik dalam duel pertama, lebih baik dalam fase bola kedua, itu akan sangat penting,” kata Aarsheim.

Saat latihan dimulai, hujan turun ringan. Aarsheim mengepalkan tangan di pinggir lapangan ketika salah satu umpan silang yang mereka latih berbuah gol. Di lingkaran tengah, Jensen memberi tahu para penyerang cara melepaskan diri dari pressing Brann. Suasana latihan berlangsung serius, positif, dan kolaboratif. Ketika ditanya tentang peran polisi baik dan polisi jahat, Aarsheim mengaku mereka kadang merencanakannya. “Tapi kami tidak percaya pada bentakan,” tegas Jensen.

Mereka sering ditanya apa yang terjadi jika terjadi perbedaan pendapat, misalnya soal pemilihan pemain. “Kami akan berdiskusi, kadang dengan suara keras, bersama staf lain di ruang pelatih, dan keduanya harus mempertahankan pilihan serta alasan kami,” jelas Jensen. “Kami akan berdiskusi sampai mencapai kesepakatan. Tapi 99 persen waktu kami sudah sepakat tentang siapa yang akan digunakan, jadi sangat jarang kami membuang waktu untuk itu.”

Perjalanan Morten Jensen dan Bjarte Lunde Aarsheim bersama Viking Stavanger adalah bukti bahwa keberanian bermimpi besar, kerja sama yang erat, dan pemahaman mendalam tentang akar lokal dapat mengubah sebuah klub. Dari percakapan telepon sederhana hingga gelar Eliteserien dan pertandingan Liga Champions melawan Bayern Munich, mereka telah membawa Viking kembali ke panggung yang layak. Kisah mereka menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari jalur konvensional.

Saat menghadapi Bayern, Viking tidak hanya membawa nama klub, tetapi juga harapan kota Stavanger. “Bagi kami, Viking adalah Barcelona,” kata Aarsheim. “Para pemain harus memahami bahwa kami melihat Viking lebih dari sekadar klub. Di kepala kami, ini adalah tim terbaik di dunia.” Kalimat itu merangkum semangat yang telah membawa mereka sejauh ini, dan mungkin akan membawa mereka lebih jauh lagi.