Daniel Maldini Bersinar di Cagliari Usai Lama Terlupakan

Nama Daniel Maldini kembali menjadi sorotan di Serie A. Penyerang berusia 25 tahun itu mencetak gol pada pertandingan keempatnya secara beruntun ketika Cagliari menahan imbang Juventus 1-1, sebuah cara yang terasa pas untuk merayakan ulang tahunnya. Penampilan tersebut menegaskan bahwa ia perlahan menemukan bentuk terbaiknya bersama klub Sardinia itu.

Kebangkitan Maldini tidak bisa dilepaskan dari proyek yang sedang dibangun Cagliari. Klub yang terakhir kali menjuarai Italia pada 1970 itu mengawali musim dengan empat kemenangan dari lima pertandingan, start terbaik mereka di kasta tertinggi dalam lebih dari setengah abad. Di baliknya ada pelatih Fabio Pisacane, sosok yang berhasil menyatukan sejumlah pemain muda sekaligus figur yang selama ini dianggap belum membuktikan potensinya.

Gol Maldini dan Duel Cagliari Melawan Juventus

Belum genap 15 menit laga berjalan ketika Daniel Maldini menusuk dari sisi kiri. Tembakan pertamanya dari sudut kotak penalti terlihat terlalu ambisius, tetapi bola memantul kembali ke arahnya dari seorang bek dan diteruskan kepada rekan setimnya, Paul Mendy. Mendy menahan penjaga dengan cerdik lalu mengembalikan bola kepada Maldini untuk diselesaikan dari jarak dekat, menjadi gol keempat beruntunnya di Serie A.

Di sisi lain lapangan, penjaga gawang Elia Caprile tampil luar biasa dan menjadi alasan utama Cagliari mampu mempertahankan satu poin. Ia sudah melakukan penyelamatan dari Edon Zhegrova sebelum Randal Kolo Muani menyamakan kedudukan lewat umpan silang Kerim Alajbegovic. Bola melintas dekat sekali di depannya, sehingga hampir tidak ada yang bisa ia lakukan pada gol tersebut.

Beberapa saat kemudian, Juventus membentur mistar gawang dan Caprile menahan bola pantulan dari Nick Woltemade. Ia lalu membuat penyelamatan gemilang atas voli jarak dekat Muani, meski sang penyerang berada dalam posisi offside. Laga berakhir 1-1, dan Pisacane menilai Juventus memang pantas mendapatkan setidaknya satu poin dari pertandingan itu.

Bayang-bayang Keluarga dan Perjalanan Karier Maldini

Sebagai putra bek legendaris Milan, Paolo Maldini, Daniel kerap dianggap remeh oleh para pengkritiknya dengan julukan “un raccomandato” — seseorang yang mendapat kesempatan karena mengenal orang yang tepat. Dalam kasusnya, anggapan itu melekat karena ia lahir di keluarga sepak bola: kakeknya, Cesare, menjuarai Piala Eropa bersama Milan, dan ayahnya mengulangi pencapaian serupa lima kali lagi. Tekanan untuk menyamai jejak tersebut jelas tidak ringan.

Daniel tumbuh di akademi Milan dan mencatat debut senior untuk klub itu sejak 2020, tetapi ia tidak pernah benar-benar menembus skuad utama di San Siro. Sejak itu ia berpindah dari Spezia ke Empoli, Monza, Atalanta, hingga Lazio tanpa pernah menemukan ritme terbaiknya. Perjalanan itu membuat banyak pihak mempertanyakan apakah ia mampu bersinar di level tertinggi.

Beberapa pekan terakhir memang penuh gejolak. Bulan lalu, surat izin mengemudinya dicabut setelah ia mengalami kecelakaan mobil dan gagal dalam tes napas, dalam insiden yang dilaporkan mengakibatkan lima orang mengalami luka ringan. Meski demikian, tes narkotika di rumah sakit kemudian menunjukkan hasil negatif, dan ia tetap dipanggil ke skuad Italia untuk pertama kalinya sejak Roberto Mancini kembali ditunjuk sebagai pelatih tim nasional.

Penampilan Maldini bersama Azzurri memang belum konsisten, tetapi ia sempat berbaris bersama rekan setimnya di Cagliari, Alessandro Romano, saat kemenangan 3-1 atas Turki. Itu menjadi kali pertama dalam lebih dari setengah abad — tepatnya sejak 1972 — dua pemain klub tersebut menjadi starter bersama untuk Italia. Kesempatan itu jelas tidak datang begitu saja, melainkan hasil kerja kerasnya di level klub.

Peran Fabio Pisacane dan Sistem Permainan Cagliari

Fabio Pisacane bukan pelatih biasa. Ia pernah menerima penghargaan Player of the Year pertama dari Guardian pada 2016 berkat kisah hidupnya yang luar biasa, setelah sebagai remaja hidup dengan sindrom Guillain-Barré, mengalami kelumpuhan, dan sempat koma selama 20 hari. Ia pulih, meniti karier dari divisi bawah sepak bola Italia, dan baru mencatat debut di Serie A pada usia 30 tahun. Sepanjang perjalanannya, ia juga sempat menjadi sorotan karena melaporkan upaya seorang direktur Ravenna yang mencoba menyuapnya untuk mengatur pertandingan di kasta ketiga.

Semua pengalaman itu tidak otomatis menjamin kesuksesannya sebagai manajer, tetapi Pisacane membuktikan diri sebagai taktisi cerdik. Ia telah lama menegaskan keyakinannya pada potensi Maldini, terutama kemampuan sang pemain menghubungkan lini tengah dan serangan. Meski begitu, ia juga tidak segan mengkritik, dengan menekankan bahwa Maldini perlu lebih konsisten dalam penerapannya di lapangan.

Sistem yang diterapkan Pisacane memberi Maldini kebebasan bergerak antara sayap dan ruang gelandang serang konvensional. Pola serupa juga membuat pemain lain bersinar di peran yang sesuai dengan karakter mereka. Gelandang Harry Winks, mantan pemain internasional Inggris yang kini berusia 30 tahun, menjalankan tugasnya dengan tenang di depan lini pertahanan sehingga Romano yang masih 20 tahun punya ruang lebih untuk naik-turun lapangan, sementara Mendy yang berusia 19 tahun tumbuh semakin percaya diri sebagai penyerang target.

Winks sendiri tidak sungkan memuji pelatihnya. Dalam sebuah wawancara, ia menyebut Pisacane berada di level paling atas dan telah meningkatkan hampir semua pemain sejak kedatangannya, termasuk dirinya. Ia juga menilai sang pelatih punya potensi mencapai puncak tertinggi dalam dunia kepelatihan, sebuah pujian yang menunjukkan betapa besar pengaruhnya di ruang ganti.

Posisi Cagliari di Klasemen dan Peta Persaingan Serie A

Kebangkitan Cagliari terasa semakin berarti jika melihat klasemen. Mereka kini menempati posisi keempat dengan 13 poin dari enam laga, hanya tertinggal dari Roma (14), serta Inter Milan dan Lazio yang sama-sama mengumpulkan 16 poin di puncak. AC Milan menyusul dengan 12 poin, sedangkan Juventus dan Como mengoleksi 11 poin di bawahnya.

Lazio sendiri menjaga posisi mereka lewat kemenangan 3-1 atas Monza, hasil yang membuat mereka tetap sejajar dengan Inter di puncak klasemen. Pencapaian itu terbilang mengejutkan mengingat suasana di sekitar klub sedang tidak ideal, sampai-sampai sebagian pendukung enggan hadir ke pertandingan kandang. Di sisi lain, laga Como melawan Roma menjadi hasil imbang tanpa gol pertama musim ini, terjadi pada pertandingan ke-54, ironisnya antara dua tim yang biasanya produktif dalam mencetak gol.

Roma tampil lebih tajam di awal dan membentur tiang gawang lewat Lorenzo Pellegrini. Namun setelah kartu merah Donyell Malen di awal babak kedua, Como menguasai pertandingan dengan 80 persen penguasaan bola, meski gagal mengubah tekanan itu menjadi gol. Hasil akhirnya tetap bisa diterima kedua tim, dan keduanya masih dianggap sebagai penantang paling mungkin bagi Inter. Sementara itu, performa Cagliari menempatkan mereka dalam perbincangan yang lebih serius dari sekadar kejutan awal musim.

Ketegangan di Akhir Laga dan Insiden Pisacane-Spalletti

Selepas pertandingan melawan Juventus, suasana memanas ketika Pisacane dan pelatih Juventus, Luciano Spalletti, sama-sama mendapat kartu merah akibat perselisihan setelah peluit akhir dibunyikan. Keduanya awalnya sempat berjabat tangan, tetapi Spalletti terdengar berteriak dengan nada marah sejak awal dan tampak bereaksi terhadap cara Pisacane menyentuh sikunya. Meski begitu, tidak ada gestur yang terlihat jelas bernuansa kekerasan.

Spalletti kemudian menyatakan bahwa ia sebenarnya sedang memuji kecerdikan pemain Cagliari dalam mengulur waktu, sementara Pisacane tampak kebingungan dan terdengar bertanya, “Apa yang saya lakukan?” Kejadian itu terlihat seperti persoalan kecil yang membesar tanpa alasan jelas. Namun pertanyaan Pisacane bisa dijawab dengan cara lain, karena yang telah ia lakukan adalah membawa Cagliari meraih enam kemenangan dan satu hasil imbang dari delapan laga terakhir, terhitung sejak musim lalu.

Dalam rentang tersebut, hanya Roma yang mengumpulkan poin lebih banyak daripada Cagliari. Catatan itu menegaskan bahwa kebangkitan tim Sardinia bukan sekadar keberuntungan sesaat, melainkan buah dari kerja taktis yang konsisten. Termasuk di dalamnya keberhasilan memaksimalkan permainan Daniel Maldini yang kini mulai membayar kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Kesimpulan

Perjalanan Daniel Maldini di Cagliari menunjukkan bagaimana seorang pemain yang lama hidup dalam bayang-bayang nama besar keluarganya bisa menemukan jalannya sendiri. Empat gol beruntun di Serie A, pemanggilan ke tim nasional Italia, dan peran penting dalam start terbaik Cagliari dalam lebih dari 50 tahun menjadi bukti bahwa ia bukan hanya sekadar nama belakang yang melekat padanya. Dengan sistem yang tepat dan kepercayaan dari Fabio Pisacane, potensinya mulai terlihat nyata.

Cagliari kini menempati posisi keempat klasemen dan menjadi salah satu tim yang paling layak diperhitungkan di awal musim ini. Jika konsistensi itu terus terjaga, bukan tidak mungkin mereka bertahan di papan atas dan Maldini terus menambah koleksi golnya. Bagi pemain yang selama ini diragukan, itu adalah cara paling elegan untuk menjawab semua keraguan.