Cienciano dan Misi Copa Sudamericana di Ketinggian Cusco

Cienciano, klub sepak bola terbesar di Cusco, kembali menjadi pusat perhatian lewat langkahnya di Copa Sudamericana. Tim asal Peru itu menjamu Montevideo City Torque dari Uruguay pada leg pertama perempat final, sebuah momen yang datang 23 tahun setelah mereka menjadi klub Peru pertama yang mengangkat trofi internasional.

Laga tersebut digelar di Stadion Garcilaso de la Vega — dinamai menurut penulis kronik Kekaisaran Inca — dan disaksikan sekitar 30.000 orang. Kehadiran massa sebanyak itu mengalihkan sorotan kota dari mesin pariwisatanya, termasuk Machu Picchu yang tak jauh dari sana, menuju sepak bola. Leg kedua dijadwalkan berlangsung di Uruguay pada Kamis.

Cienciano dan Ambisi Copa Sudamericana di Ketinggian 3.353 Meter

Stadion kandang Cienciano berada di ketinggian 11.030 kaki atau sekitar 3.353 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu venue paling menantang bagi tim tamu. Beberapa jam sebelum tendangan pembuka, sekolah yang menginspirasi nama klub itu berdiri kosong. Dinding-dindingnya masih menyimpan jejak sebagai salah satu sekolah negeri tertua di Peru dari era republik, lengkap dengan mural bergambar trofi Copa Sudamericana dan sosok pemain yang sedang menendang bola.

Di luar sekolah, suporter datang berbondong-bondong dengan membawa drum dan bendera raksasa bertuliskan “Papá de América” atau “Ayahnya Amerika”. Kelompok-kelompok kecil itu merupakan bagian dari La Furia Roja, sebutan resmi untuk barra brava klub. Jersey merah Cienciano tampak kontras dengan fasad Plateresque Gereja San Francisco serta langit mendung di belakangnya.

Ketegangan memuncak pada lima menit terakhir pertandingan. Cienciano sudah memimpin dua gol, tetapi penonton tetap menuntut lebih dan mendorong para pemain menambah keunggulan sebelum lawatan ke Uruguay. Keluhan dan sorakan terdengar dalam bahasa Spanyol hingga Quechua, bahasa pribumi yang paling luas dipakai di kawasan Andes, dan satu nyanyian bertahan bahkan setelah peluit akhir berbunyi: “Sí se puede” — “Ya, kita bisa”.

Dari Sekolah di Cusco hingga Klub Profesional

Sebagaimana banyak klub di Amerika Latin, imigran Inggris berperan besar dalam kelahiran Cienciano. Seorang Inggris bernama William Newell memperkenalkan sepak bola kepada murid-muridnya di Sekolah Nasional Ilmu dan Seni Cusco, lembaga yang dibuka tak lama setelah Peru merdeka dari Spanyol.

Dari lingkungan sekolah itulah cikal bakal Cienciano lahir, dan klub memainkan pertandingan pertamanya pada 1902. Nama klub pun bersumber dari sekolah tersebut. Selama sekitar tujuh dekade, Cienciano berkutat di level amatir dan regional sebelum akhirnya menembus liga profesional pada awal 1970-an.

Bagi warga Cusco, identitas klub dan identitas kota sulit dipisahkan. Victor Estrada, 44 tahun, menyebut dukungan terhadap Cienciano sebagai bagian dari jati diri: menjadi orang Cusco rasanya tidak lengkap tanpa mendukung klub yang lahir dari sekolah dan kota mereka sendiri.

Kisah 2003 yang Mengubah Wajah Sepak Bola Peru

Pada 2003, Cienciano menorehkan kisah yang mengubah cara Peru memandang sepak bola mereka. Federasi Sejarah & Statistik Sepak Bola Internasional (IFFHS) bahkan menobatkan klub ini sebagai tim terbaik dunia untuk edisi Desember 2003.

Skuad saat itu rata-rata berusia 28 tahun, dengan anggaran dan pendapatan yang jauh lebih kecil dibanding klub-klub besar Peru. Cienciano belum pernah menjuarai liga nasional, namun mereka menyingkirkan Universidad Católica (Cile), Santos (Brasil), dan Atlético Nacional (Kolombia) sebelum mengejutkan River Plate pada final dua leg. Leg kedua yang menentukan digelar di Arequipa, sekitar 500 kilometer di selatan Cusco, dengan alasan kapasitas stadion.

Conmebol sendiri baru memperkenalkan Copa Sudamericana pada 2002, kompetisi yang kurang lebih setara dengan Liga Europa milik UEFA. Setelah gelar 2003, Cienciano kembali membuat kejutan dengan mengalahkan Boca Juniors di Recopa Sudamericana, turnamen yang mempertemukan juara Copa Sudamericana dengan juara Copa Libertadores.

Estrada, yang mengaku pernah menjadi bagian La Furia Roja, menyimpan ingatan tersendiri tentang perjalanan ke Arequipa. Ia menuturkan bahwa dirinya tidak punya uang saat itu, tetapi mendapat informasi bahwa mereka bisa sampai ke sana dengan kereta — bahkan ikut menumpang di atas kereta. Menurut dia, gol kemenangan di laga itu membuat seluruh perjalanan terasa layak.

Makna Lebih Luas bagi Cusco dan Peru

Penulis Paolo Sosa, yang baru menerbitkan buku tentang rivalitas Cienciano dan Deportivo Garcilaso, menilai tahun 2003 mengubah klub ini dari sekadar representasi sebuah sekolah dan kota menjadi simbol pemersatu seluruh negeri yang tengah terguncang ketidakstabilan politik. Periode awal 2000-an, menurut dia, diwarnai skandal korupsi yang membuat moral bangsa dipertanyakan, dan kehadiran klub dari luar ibu kota yang mampu mengalahkan tim-tim terbesar di benua menjadi oase tersendiri.

Sosa menilai Cienciano menulis kisah paling epik dalam sejarah olahraga negaranya, dan itulah sebabnya memori tersebut masih terasa hidup 23 tahun kemudian. Hanya dua tim Peru lain yang pernah mencapai final kompetisi internasional, yaitu Universitario de Deportes dan Sporting Cristal, keduanya dari Lima, sebagai runner-up Copa Libertadores pada 1972 dan 1997. Fakta itu memperlihatkan betapa langkanya pencapaian Cienciano.

Di kota tempat sejarah dan mistisisme melebur, legenda itu nyata bagi generasi baru. Sebagian pendukung mengaku terlalu muda untuk mengingat kampanye 2003, tetapi mereka tumbuh besar mendengar cerita tentang klub dari Cusco yang seolah tak terkalahkan. Nyanyian dan bendera di tribun menjadi cara mewariskan kisah itu dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tantangan Finansial dan Peluang ke Depan

Antara 2010 hingga kini, Cienciano tidak meraih kesuksesan sebesar yang dibayangkan banyak orang. Klub bergulat dengan masalah finansial, terdegradasi ke divisi dua pada 2015, lalu baru kembali ke kasta tertinggi empat tahun kemudian. Meski muncul kekuatan baru seperti Cusco FC dan Deportivo Garcilaso, Cienciano tetap bertahan sebagai salah satu dari lima klub paling populer di Peru.

Jalan menuju perempat final edisi kali ini pun dibangun dengan hasil yang tak ringan. Cienciano melaju setelah mengalahkan Lanús — yang disebut sebagai juara Copa Sudamericana 2025 — serta Botafogo, salah satu klub paling terkenal di Brasil. Kombinasi nama besar lawan itu membuat harapan suporter kembali menyala.

Namun perjalanan belum selesai karena leg kedua akan dimainkan di Uruguay pada Kamis. Keunggulan dua gol menjadi modal berharga, sekaligus menuntut konsentrasi penuh agar ambisi melangkah lebih jauh tidak pupus di kandang lawan.

Penutup

Bagi Cienciano, perempat final Copa Sudamericana kali ini bukan sekadar pertandingan lanjutan. Ini adalah pengingat bahwa klub kecil dari Cusco pernah menaklukkan benua, dan bahwa sejarah itu masih hidup di jersey merah, mural sekolah, serta nyanyian “Sí se puede” di tribun.

Dengan modal keunggulan dari leg pertama, Cienciano kini berdiri di ambang peluang untuk kembali menulis babak baru dalam kisah panjang mereka. Yang tersisa hanyalah membuktikan, sekali lagi, bahwa cerita mustahil dari ketinggian 3.353 meter itu belum berakhir.